January 28, 2009

Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah di Indonesia

Posted in jurnal tagged , , at 6:56 p01 by himproagro

Menurut jurnal Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah Di Indonesia yang disusun oleh U. Susanto, A.A. Daradjat, dan B. Suprihatno, dapat diketahui bahwa  varietas unggul padi sawah merupakan kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di Indonesia. Perakitan varietas padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta minat masyarakat. Menurut Daradjat, varietas padi sawah digolongkan dalam empat tipe yang tahan hama dan penyakit utama serta memiliki mutu yang baik, yaitu tipe Bengawan, tipe PB5, tipe IRxx, dan tipe IR64.

Pemuliaan Padi Sawah Tipe Bengawan (1943-1967)

Persilangan padi di Indonesia dimulai pada tahun 1920-an dengan memanfaatkan genepool yang dibangun melalui introduksi tanaman. Sampai dengan tahun 1960-an pemliaan padi diarahkan pada lahan dengan pemupukan yang rendah, atau tanaman kurang responsive terhadap pemupukan. Pelepasan varietas padi pertama kali dilakukan pada tahun 1943, yaitu varietas. Pembentukanya dilakukan dengan menyilangkan beerapa tetua, kemudian dari turunannya dipilih tanaman yang mempunyai sifat yang baik. Persilangan dilakukan dengan single cross, double cross, dan back cross. Metode pemuliaan yang digunakan adalah metode bulk (tahun 1950-an), kemudian beralih ke metode pedigree.

Pemuliaan Padi Sawah Tipe PBS (1967-1985)

Kebutuhan akan beras yang terus meningkat menuntut peningkatan produktivitas padi dengan segera. Pada tahun 1967 dilepas dua varietas introduksi yaitu PB8 dan PB5. Selain dilepas sebagai varietas unggul baru, varietas introduksi juga merupakan sumber gen untuk memperbaiki sifat-sifat varietas yang sudah ada. Persilangan PB5 dengan Sinta menghasilkan Pelita I-1 dan Pelita I-2. Dari dua varietas tersebut selanjutnya berkembang lagi menghasilkan Cisadane dan Sintanur.

Metode pemuliaan yang digunakan adalah metode pedigree, namun sejak tahun 1976 diterapkan juga metode bulk tanam rapat yang ternyata lebih praktis, mudah, dan murah.

Pemuliaan Padi Sawah Tipe IRxx (1977-….)

Latar belakang genetic tetua varietas tipe IRxx adalah varietas local yang berasal dari berbagai negara Asia, Afrika, dan Amerika. Metode pemuliaan yang digunakan merupakan metode pemuliaan modern seperti Quantitative Trait Loci (QTL) dan Marker Assisted Selection (MAS) untuk menyeleksi genotype yang diharapkan.

Contoh varietas / galur tipe IRxx adalah IR26, IR28, IR 29, IR30, IR34 (tahan wereng coklat biotipe 1), IR32, IR36, IR42, Kencana Bali, Kelara, Babawee, PTb33 (tahan wereng coklat biotipe 2), IR70, IR68, Bahbutong, Barumun, dan Membramo (tahan wereng coklat biotipe 3).

Pemuliaan Padi Sawah Tipe IR64 (1986-….)

IR64 dilepas sebagai varietas unggul di Indonesia pada tahun 1986. Varietas ini digemari baik oleh petani dan konsumen karena rasa nasi yang enak, umur genjah, dan hasil yang tinggi. Latar belakang genetic tetua varietas IR64 lebih luas dibandingkan PB5, tetapi masih menggunakan varietas-varietas sebelumnya sebagai tetua sumber gen ketahanan terhadap hama dan penyakit serta keistimewaan tertentu.

Pemanfaatan gen dari spesies  Oriza nivara telah dilakukan pada varietas PB28,PB30, PB32, dan PB36. Metode pemuliaan yang digunakan menggunakan metode bulk pada generasi awal, setelah mengalami fiksasi dan seleksi individu selama beberapa generasi kemudian dilanjutkan dengan metode pedigree.

Pemuliaan Padi Hibrida

Padi hibrida merupakan salah satu untuk mengatasi terjadinya stagnasi peningkatan potensi hasil varietas-varietas sebelumnya. Pengembangan padi hibrida diawali dengan penemuan cytoplasmic male sterile (CMS) pada tahun 1960 dan paket teknologi produksi benih padi hibrida. Padi hibrida sendiri pertama kali diperoleh pada tahun 1973 yang diteliti oleh Negara Cina. Teknologi ini memerlukan pemanfaatan tiga galur, yaitu CMS, galur pemulih kesuburan (restorer), dan galur pelestari (maintainer), sehingga biasa disebut dengan teknik tiga galur. Selanjutnya berkembang menjadi teknik hibrida 2 galur yang memanfaatkan galur environment genic male sterility (EGMS). Galur ini menjadi steril pada kondisi tertentu sehingga dapat digunakan sebagai mandul jantan, tapi dapat menjadi fertile pada kondisi yang lain sehingga digunakan untuk memperbanyak galur EGMS.

Padi hibrida memiliki latar belakang genetic galur-galur dari IRRI. Perakitan danpengujian padi hibrida di Indonesia telah menghasilkn tiga kombinasi hibrida harapan dan telah diuji multilokasi. Pada tahun 2002 telah dilepas varietas hibrida yaitu Maro dan Rokan.

Pemuliaan Padi Tipe Baru

Populasi dasar padi tipe baru banyak dibentuk dengan memanfaatkan tetua dari subspesies indica dan japonica tropic sehingga latar belakang genetiknya cukup luas.  IRRI banyak memanfaatkan varietas local Indonesia sebagai tetua dalam pembentukan padi tipe baru. Pada awalnya pembentukan populasi tanaman padi tipe baru di Indonesia menggunakan varietas IRBB5, Weshang II, Membramo, Maros, TB154, BP68, dan IR65600 sebagai tetua persilangan. Penelitian tersebut menghasilkan galur-galur yang sedang diuji daya hasilnya seperti BP138E-KN-36-2-2, BP364B-MR-33-2-PN-5-1, dan IR66160-121-4-5-3-MR-3-PN-1-2-1-1, yang diharapkan beberapa tahun kedepan, salah satu dari galur tersebut dapat dilepas sebagai varietas padi tipe baru.

2 Comments »

  1. ranindita said,

    gA ada pdf teNtang mEtode pErsilangan yah?????ada tugas niE………

  2. ada ga mEtode pemuliaan yang singLe cRoss?????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: