January 28, 2009

Transgenik sebagai solusi yang ditakuti

Posted in bacaan tagged , , at 6:56 p01 by himproagro

Negara-negara berkembang diperhadapkan dengan masalah pertambahan penduduk, dan diperkirakan  lebih dari 900 juta dari 5.8 miliar penduduk dunia mengalami kelaparan. Pada tahun 2025 penduduk dunia diperkirakan 8 miliar dengan sebagian kelahiran baru terjadi di negara-negara berkembang. Asia akan menjadi tempat tinggal kira-kira 4 miliar orang dan tiap orang memerlukan cukup pangan, sedangkan produksi belum dapat mengatasi kebutuhan manusia. Hal ini diperparah  dengan berkurangnya lahan pertanian karena kebutuhan manusia akan tempat tinggal dan perkembangan pembangunan.

Rekayasa genetika memiliki potensi sebagai teknologi yang ramah lingkungan . Selain ramah lingkungan  teknologi rekayasa genetika diharapkan akan dapat membantu mengatasi masalah pembangunan pertanian yang tidak lagi dapat dipecahkan secara konvensional. Contohnya dalam rangka meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah salah satu kendala utamanya adalah adanya gangguan hama dan penyakit. Survei sekilas dari literatur majalah ilmiah mengenai tanaman transgenik menunjukkan bahwa tanaman transgenik dibuat untuk beberapa tujuan yaitu : pengembangan teknik transformasi baru, studi dasar mengenai peranan atau fungsi suatu gen, dan perbaikan tanaman untuk tujuan khusus. Dengan rekayasa genetika sudah dihasilkan tanaman transgenik  yang memiliki sifat  baru seperti tanaman  transgenik yang tahan terhadap hama, tanaman kedelai yang tahan terhadap herbisida  dan tanaman transgenik yang mempunyai kualitas hasil yang tinggi.

Kemajuan ini sangat penting dan dalam kenyataan jumlah tanaman transgenik yang diproduksi setiap tahun semakin meningkat. Hingga tahun 1988 hanya ada sekitar 23 tanaman transgenik. Jumlah tersebut meningkat menjadi 30 pada tahun 1989 dan lebih dari 40 pada tahun 1990. Tanaman transgenik direkayasa pertama kali pada tahun 1980-an. Hall, Kemp dan kawan-kawan telah mentransfer gen b-faseolin dari kacang-kacangan ke kromosom bungan matahari. Perkembangan lebih lanjut telah memungkinkan untuk melakukan transformasi genetik ke eksplan yang mampu beregenerasi seperti daun, batang dan akar. Terobosan terakhir dalam hal meregenarasikan tanaman monokot transgenik telah menghilangkan penghambat utama dalam usaha untuk perbaikan sifat  tanaman serealia.

Teknologi rekayasa genetika merupakan  transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya dimana dapat bersifat antar gen dan dapat pula lintas gen. Rakayasa genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen.Gen yang telah  diidentikfikasi diisolasi dan kemudian dimasukkan ke dalam  sel tanaman.    Melalui  suatu sistem tertentu, sel tanaman yang  membawa  gen tersebut dapat dipisahkan dari sel tanaman yang  tidak  membawa gen.  Tanaman  pembawa  gen  ini  kemudian  ditumbuhkan secara normal.  Tanaman inilah yang disebut sebagai tanaman transgenik karena ada  gen  asing  yang  telah dipindahkan dari makhluk  hidup lain ke tanaman tersebut.

Istilah pangan transgenik merujuk pada pangan yang bahan dasarnya ,mengandung organisme yang telah mengalami rekayasa genetika. Dengan teknologi itu, gen dari berbagai sumber dapat dipindahkan ke tanaman. Gen bisa berasal dari manusia, binatang, tumbuhan lain, bakteri, virus, bahkan DNA telanjang yang ditemukan di tanah. Gen adalah kumpulan asam deoksiribo nukleat (DNA) yang mengatur dan mengendalikan sifat makhluk hidup.

Laju perkembangan bioteknologi seakan tak terbendung. Ratusan macam komoditas hasil rekayasa genetika telah berhasil diciptakan Hingga saat ini sudah ratusan gen dari berbagai sumber yang berhasil dipindahkan ke tanaman dan memunculkan ratusan jenis varietas tanamana baru, disebut tanaman transgenik. Sebagian besar tanaman transgenik belum dipasarkan. Hingga tahun 2000, baru 24 jenis varietas tanaman transgenik dikomersialisasikan di Amerika. Tahun ini diperkirakan lebih dari 30 varietas tanaman transgenik dipasarkan.

Saat ini ada empat Tanaman Transgenik utama yaitu: kedelai transgenik yang menguasai 36 persen dari 72 juta hektar (ha) area global tanaman kedelai, kapas transgenik yang mencakup 36 persen dari 34 juta hektar, kanola transgenik , 11 persen dari 25 juta hektar, dan jagung transgenik, 7 persen dari 140 juta hektar. Berdasarkan luas area penanaman dan sifat baru yang disisipkan, kedelai transgenik tahan herbisida menduduki ranking pertama (25,8 juta hektar) diikuti jagung Bt (tahan ulat pengerek), kanola tahan herbisida, jagung tahan herbisida, kapas tahan herbisida, kapas Bt dan tahan herbisida, kapas Bt, serta jagung Bt dan tahan herbisida.

Kedelai transgenik yang telah dikomersialkan secara global hanya ada dua jenis yaitu kedelai toleran herbisida dan kedelai dengan kandungan asam oleat (asam lemak) tinggi. Data dari AgBios data base menyebutkan bahwa kedelai transgenik dengan kandungan asam oleat tinggi telah memperoleh ijin komersialisasi di 4 negara setelah memperoleh status aman pangan di negara Kanada (th 2000), Jepang (2001), AS (1997), dan Australia 2000); aman pakan di 3 negara, Kanada (th 2000), Jepang (2000), dan AS (1997); dan aman lingkungan di 3 negara, Kanada (th 2000), Jepang (1999), dan AS (1997).

Sedangkan kedelai transgenik toleran herbisida pada tahun 2006 ditanam oleh sembilan negara yaitu AS, Argentina, Brazil, Paraguay, Kanada, Uruguay, Afrika Selatan, Rumania, dan Meksiko, dengan dengan luas 58, 6 juta ha atau 57% dari total luas tanaman transgenik secara global yaitu 102 juta ha.

Kedelai transgenik hanya dapat dikomersialkan kalau sudah dilakukan pengkajian keamanan lingkungan yang meliputi pengujian weediness, out crossing, secondary and non-target (predator, parasit, serangga berguna) adverse effects, dan impact on biodiversity di confined field trial (lapangan uji terbatas) dan dinyatakan “aman lingkungan”. Selain itu harus melalui pengkajian keamanan pangan dan pakan yang meliputi pengujian alergenisitas, toksisitas, dietary exposure, dan analisa nutritional, dan dinyatakan “aman pangan/pakan”. Dibandingkan dengan tanaman non transgenik, tanaman transgenik harus melalui pengkajian keamanan lingkungan, keamanan pangan/pakan secara komprehensif dengan metode ilmiah dan sahih. Ketetapan aman pangan, pakan, dan aman lingkungan diberikan oleh Lembaga Pengatur (regulatory bodies) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada di masing-masing negara.

Rekayasa genetika dalam bibit pangan nabati telah berkembang dengan luas begitu pula produk rekayasa genetika pada hewan misalnya produksi hormon untk peningkatan kuantitas maupun kualitas dari pangan hewani. Dengan adanya produk-produk rekayasa genetika tersebut  dapat dikatakan bahwa produk rekayasa genetika khususnya  bahan pangan  mengintroduksi unsur toksis, bahan-bahan asing dan berbagai sifat yang belum dapat dipastikan dan berbagai karakteristik lainnya. Oleh karena itu muncullah berbagai kekhawatiran  dalam menggunakan dan mengkonsumsi  bahan pangan transgenik. Kekhawatiran dapat bersifat ilmiah  yang dibuktikan dengan berbagai hasil percobaan, tetapi ada pula kekhawatiran yang disebut kekhawtiran logika (public anxiety).

Keberadaan tanaman transgenik dikhawatirkan, tentu bukan tanpa alasan. Tanaman itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu – disebut transgene – bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).

Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh boll-worm, hama perusak tanaman kapas. Yang menjadi kekhawatiran banyak pihak adalah selain efektif melawan hama sasaran, toksin juga teridentifikasi mematikan serangga lain (non target). Bila hal ini terjadi, salah satu komponen ekosistem akan musnah, dan keseimbangan alam akan terganggu

Adanya reaksi alergis pada manusia satu-satunya dampak negatif  gangguan kesehatan yang disebabkan mengkonsumsi bahan pangan transgenik yang sudah dapat dibuktikan melalui percobaan  skinprick testing. Hal ini dibuktikan oleh Nordlee dan kawan-kawan pada tahun 1996. Oleh karena itu seluruh gen  yang dipergunakan maupun produk yang telah dihasilkan ditarik dari peredaran, sehingga dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada lagi dijumpai keberadaan dampak negatif mengkonsumsi pangan transgenik terhadap gangguan kesehatan pada manusia. Disamping hal positif terdapat kekhawatiran dari sebagian masyarakat bahwa tanaman transgenik akan mengganggu, merugikan dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Berikut akan diuraikan mengenai kekhawatiran dan fakta yang mendukung bahwa tanaman transgenik merupakan produk yang aman

Kemungkinan menimbulkan keracunan

Ada kekhawatiran apabila manusia memakan organisme khususnya tanaman transgenik yang mengandung gen Bt-endotoxin akan mati karena keracunan. Kekhawatiran tersebut didasari oleh sifat beracun dari gen Bt terhadap serangga, karena serangga yang memakan tanaman transgeniktersebut akan mati akibat racun gen Bt. Pendapat ini tidak benar karena gen Bt hanya akan bekerja secara aktif dan bersifat racun apabila bertemu sinyal penerima (receptor) di dalam usus serangga dari golongan yang sesuai dengan dengan virulensinya. Gen Cry I       hanya manjur untuk serangga golongan Lepidoptera sedangkan gen Cry III hanya untuk Coleoptera. Usus serangga mempunyai pH basa sedangkan usus manusia mempunyai pH asam dan tidak memiliki sinyal penerima Bt. Menurut hasil penelitian gen Bt tidak stabil dan aktif pada pH lebih kecil dari  lima. Selain itu sejak puluhan tahun yang lalu Bt-toxin telah digunakan oleh petani di negara maju sebagai pestisida hayati yang aman baik terhadap hewan, serangga berguna maupun manusia. Oleh karena itu secara ilmiah tanaman transgenik yang mengandung gen Cry tidak akan beracun terhadap manusia

Kemungkinan menimbulkan alergi

Kekhawatiran lain dari tanaman hasil rekayasa genetik adalah sebagai penyebab alergi. Satu sampai dua persen orang dewasa dan 4-6% anak-anak menderita alergi akibat makanan. Beberapa komoditas yang digunakan sebagai bahan makanan diketahui dan dikenal sebagai sumber bahan penyebab alergi (allergen) seperti brazil nut,  crustacean, gandum, ikan, kacang tanah, kedelai dan padi. Sebagai peneliti sebelum mengisolasi gen interes dari suatu komoditas untuk digunakan dalam  perakitan tanaman transgenik kita harus mengetahui terlebih dahulu sumber-sumber allergen. Penggunaan gen yang berasal dari sumber allergen harus benar-benar dihindari.

Suatu studi kasus yang relevan yang telah dilakukan adalah perakitan tanaman transgenik untuk memperoleh kedelai dengan kandungan metionin tinggi, karena diketahui tanaman kedelai mempunyai kandungan metionin rendah. Oleh karena itu dilakukan isolasi gen metionin dari tanaman brazil nut yang mengandung metionin tinggi dan ditransfer ke tanaman kedelai. Perakitan tersebut berjalan dengan sukses dan diperoleh tanaman kedelai yang mengandung gen metionin. Tetapi setelah dilakukan pengujian sifat alergi terhadap manusia melalui uji skin prick ternyata hasilnya positif menyebabkan alergi. Sebagai akibat dari hasil pengujian tersebut maka pengembangan proyek kedelai transgenik dengan kandungan metionin tinggi dihentikan dan produk tersebut tidak dapat dikomersialkan.

Semua allergen adalah protein tetapi tidak semua protein adalah allergen. Makanan atau bahan pangan mengandubng puluhan ribu protein, tetapi sedikit sekali yang bersifat allergen. Allergen dijumpai dalam jumlah yang tinggi di dalam makanan atau bahan pangan, sebaliknya kandungan protein dari gen interes berjumlah sangat sedikit. Semua protein allergen bersifat stabil  dan memerlukan waktu yang lama untuk dicerna di dalam sistim pencernaan. Sifat tersebut sangat berbeda dengan protein tanaman dimana gen donor hanya dalam waktu beberapa detik sudah dapat dicerna. Selain itu diketahui pula bahwa semua allergen terdapat dalam konsentrasi tinggi dalam makanan serta stabil dan aktif pada suhu lebih besar 65oC dan pH 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen donor sebagai bahan gen transgenik tidak stabil dan aktif pada suhu lebih besar dari 65oC dan pH 5, sehingga apabila dilakukan pemanasan dalam proses memasak makanan tidak berfungsi lagi.

Kemungkinan menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia dan tahan antibiotik

Ada kekhawatiran lain bahwa penggunaan marka tahan antibiotik seperti kanamycin resistant (Kan-R) dalam tanaman transgenik menyebabkan bakteri di dalam tubuh  menjadi resisten terhadap antibiotik. Kemungkinan bakteri di dalam tubuh menjadi resisten karena transfer horizontal gen Kan-R dari tanaman transgenik yang dikonsumsi ke bakteri di dalam usus adalah sangat kecil. Gen Kan-R yang ditransfer ke tanaman melalui rekayasa genetika akan terinkorporasi ke dalam genom tanaman. Sedangkan tanaman tidak mempunyai suatu mekanisme untuk mentransfer gen yang sudah terinkorporasi tersebut  ke bakteri. Terjadinya transformasi pada bakteri memerlukan suatu kesamaan homologi yang tinggi antara utas DNA donor dan DNA penerima. Selain itu gen yang ada pada tanaman  berada di bawah komando promotor tanaman yang tidak akan bekerja pada bakteri. Cara yang lebih cepat untuk menjadikan  bakteri dalam tubuh menjadi resisten terhadap antibiotik adalah dengan mengkonsumsi antibiotik yang berlebihan sewaktu orang sedang sakit. Menurut penelitian, manusia diestimasi telah mengkonsumsi 1 juta jasad renik tahan kanamicin melalui bahan pangan seperti sayur-sayuran mentah. Disamping itu secara alami 4 triliun bakteri tahan kanamicin sudah ada dan menghuni usus manusia. Pernah juga dikatakan adanya resistensi terhadap beberapa jenis antibiotika apabila mengkonsumsi pangan transgenik, tetapi setelah diteliti penyebabnya bukan disebabkan karena penggunaan bahan pangan transgenik tetapi adanya residu antibiotita yang berlebihan pada air susu yang diproduksi  dengan menggunakan bahan transgenik. Setelah ditelusuri  ternyata sapi-sapi yang disuntik hormon bovinesomatothropine (rBST) menghasilkan produksi susu yang meningkat.

Selama produk rekayasa tanaman transgenik dilakukan dengan memasukkan prinsip-prinsip etika moral maka tanaman transgenik tersebut tidak berbahaya bagi konsumen. Sebagai contoh, di Indonesia pada awal tahun 2001 dihebohkan dengan kasus penyedap rasa (monosodium glutamat) yang diproduksi dengan menggunakan  enzim yang diisolasi dari gen babi yang haram hukumnya bagi mereka yang menganut agama Islam. Hal ini dapat dikategorikan sebagai kekhawatiran yang berdampak negatif mengkonsumsi bahan transgenik terhadap gangguan etis dan agama.

Di Indonesia sampai saat ini belum ada lagi laporan ilmiah yang telah dibuktikan menyatakan bahwa mengkonsumsi pangan transgenik menyebabkan gangguan kesehatan selain reaksi alergis (hal inipun gen dan produknya telah ditarik dari persedaran) maka dapat dikatakan pada saat ini pangan transgenik belum berbahaya bagi kesehatan.

Berkait dengan pangan transgenik dikembangkan pendekatan substantial equivalence, yaitu membandingkan pangan transgenik dengan pangan konvensionalnya. Bila keduanya sama (tidak berarti harus identik), memiliki status nutrisi sama serta serta tidak memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan, maka pangan transgenik tersebut aman dikonsumsi. Namun kontroversi masih terjadi, karena sebagai produk teknologi baru risiko jangka panjangnya belum diketahui. Ilmuawan sendiri, tidak akan pernah mampu menyatakan bahwa suatu produk 100 persen aman karena risiko sekecil apapun akan tetap ada.

Diluar kontroversi yang tengah diributkan dalam hal pelestarian keragaman hayati malah sudah ada contoh nyata di mana organisme transgenik justru menjadi penyelamat terhadap kepunahan suatu spesies. Pohon chesnut (Castanea dentata) pada mulanya merupakan tanaman dominan yang tersebar luas di Amerika Utara. Serangan cendawan Cryphonectria parasitica telah menghancurkan kejayaan tanaman ini hingga berada di ambang kepunahan. Saat ini telah dilakukan rekayasa genetik sehingga kromosom C. parasitica mengandung gen dari mycovirus yang membuat keganasannya berkurang (hypovirulent). C. parasitica transgenik tersebut ternyata sangat membantu dalam menangkal serangan C. parasitica tipe liar di alam, yang pada gilirannya dapat menyelamatkan tanaman chesnut dari kepunahan.

Di tengah merebaknya kabar bahwa tanaman transgenic ditolak oleh negara-negara maju ternyata justru negara-negara tersebut mengeluarkan ijin untuk tanaman transgenic.

IJIN DI JEPANG

Galur (event) kedelai transgenik dengan kandungan asam oleat tinggi:
G94-1, G94-19, G168 mengandung gen GmFad2-1 yang mengkode enzim delta(12)-fatty acid dehydrogenase (Glycine max) masing memperoleh ketetapan aman pangan pada th 2001,aman pd th 2000, dan aman lingkungan pd th 1999.

Galur (event) kedelai transgenik toleran herbisida:
GTS 40-3-2 dan MON89788 mengandung gen CP4 epsps (toleran herbisida glyphosate) masing-masing memperoleh ketetapan aman pangan pada th 1996 dan th 2007. A5547-127 mengandung gen PAT (toleran herbisida glufosinate) aman pangan (th 2005), aman pakan dan aman lingkungan (th 2006) A2704-12, A2704-21, A5547-35 mengandung gen PAT (toleran herbisida glufosinate) aman pangan (th 2002), aman pakan (th 2003), dan aman lingkungan (th 1999).

IJIN DI EROPA

Galur (event) kedelai transgenik toleran herbisida:
GTS 40-3-2 mengandung gen CP4 epsps (toleran herbisida glyphosate) memperoleh ketetapan aman pangan di Switzerland (th 1996), Czech Republic (th 2001), Rusia (th 2002), dan Uni Eropa (th 2005).

Introduksi tanaman transgenik atau produk pangan yang dihasilkannya perlu dievaluasi dengan hati-hati sebagaimana yang dilakukan pada proses pelepasan sejumlah varitas tanaman atau pemasaran produk pangan baru. Selama produk rekayasa tanaman transgenik dilakukan dengan memasukkan prinsip-prinsip etika moral dan agama, tidak berbahaya bagi konsumen, tidak mengganggu kelestarian hayati dan tidak merusak lingkungan sebaiknya kita menyikapinya dengan bijaksana.

-raditya.aj-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: