<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Himproagro</title>
	<atom:link href="http://himproagro.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://himproagro.wordpress.com</link>
	<description>Seputar agronomi, budidaya, jurnal dan sebagainya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 May 2009 21:30:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='himproagro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Himproagro</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://himproagro.wordpress.com/osd.xml" title="Himproagro" />
	<atom:link rel='hub' href='http://himproagro.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nokia Siapkan Info Pertanian dan Pendidikan</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/nokia-siapkan-info-pertanian-dan-pendidikan/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/nokia-siapkan-info-pertanian-dan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 21:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[nokia]]></category>
		<category><![CDATA[nokia dan pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[nokia dan pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[nokia life tools]]></category>
		<category><![CDATA[nokia untuk pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Produsen telepon seluler terkemuka asal Finlandia, Nokia, akan meluncurkan dua layanan baru pada 2009 yakni &#8220;Nokia Live Tools&#8221;. Dengan layanan baru Nokia itu pengguna dapat mengakses informasi seputar pertanian dan pendidikan. Paula Laine, Vice President Category Management, Entry category Nokia mengatakan Nokia memberikan layanan aksesibilitas internet melalui layanan Nokia Life Tools yaitu serangkaian pelayanan pendidikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=40&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Produsen telepon seluler terkemuka asal Finlandia, Nokia, akan meluncurkan dua layanan baru pada 2009 yakni &#8220;Nokia Live Tools&#8221;. Dengan layanan baru Nokia itu pengguna dapat mengakses informasi seputar pertanian dan pendidikan.</p>
<p>Paula Laine, Vice President Category Management, Entry category Nokia mengatakan Nokia memberikan layanan aksesibilitas internet melalui layanan Nokia Life Tools yaitu serangkaian pelayanan pendidikan bagi negara berkembang untuk daerah pedesaan</p>
<p>&#8220;Melalui Nokia Life Tools, petani di seluruh dunia mendapatkan informasi yang relevan dan akurat seperti prakiraan cuaca atau harga-harga pasar komoditas pertanian melalui layanan pesan pendek (SMS),&#8221; kata Paula.</p>
<p>Untuk awal Nokia Life Tools akan diujicoba di India dan kemudian diperluas ke beberapa negara di Asia dan Afrika pada 2009.</p>
<p>&#8220;Perangkat bergerak dan internet merupakan kombinasi yang kuat untuk menghubungkan setiap orang dengan yang lainnya, memperoleh informasi, berita, hiburan, Nokia percaya hal itu akan mendorong pertumbuhan internet di pasar berkembang melalui mobilitas&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=40&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/nokia-siapkan-info-pertanian-dan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alat Bantu untuk Menentukan Takaran dan Waktu Pemberian Pupuk pada Padi Sawah</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/alat-bantu-untuk-menentukan-takaran-dan-waktu-pemberian-pupuk-pada-padi-sawah/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/alat-bantu-untuk-menentukan-takaran-dan-waktu-pemberian-pupuk-pada-padi-sawah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 21:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[bacaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Varietas padi yang ditanam petani biasanya beragam. Di samping itu, kesuburan tanah  di setiap lokasi juga beragam. Oleh karena kebutuhan hara tanaman padi dipengaruhi oleh varietas, ketersediaan hara dan jenis tanah, pola tanam, iklim, dan ketinggian tempat, maka jenis dan takaran pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Takaran pupuk ini ditentukan oleh status hara atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=37&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Varietas padi yang ditanam petani biasanya beragam. Di samping itu, kesuburan tanah  di setiap lokasi juga beragam. Oleh karena kebutuhan hara tanaman padi dipengaruhi oleh varietas, ketersediaan hara dan jenis tanah, pola tanam, iklim, dan ketinggian tempat, maka jenis dan takaran pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Takaran pupuk ini ditentukan oleh status hara atau suplai hara tanah, kebutuhan hara tanaman, dan kandungan hara dalam pupuk. Pemberian pupuk tepat takaran dan tepat waktu merupakan salah satu upaya untuk mencapai hasil optimal agar keuntungan petani dapat  meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Umumnya petani sulit menentukan takaran pupuk yang tepat berdasar luas lahan usahataninya. Rekomendasi yang ditetapkan biasanya bersifat umum saja untuk seluruh wilayah. Sehingga terkadang pupuk yang diaplikasikan kurang atau dapat juga berlebihan. Padahal, penggunaan pupuk kurang dari takaran tidak dapat mencapai hasil optimal. Sebaliknya, penggunaan pupuk berlebihan di samping menambah biaya, juga dapat menurunkan hasil karena tanaman menjadi mudah terserang hama dan terinfeksi penyakit. Karenanya, diperlukan alat bantu yang memudahkan petani menentukan takaran pupuk.</p>
<p style="text-align:justify;">PuPS 1.0 merupakan piranti lunak yang digunakan untuk menentukan rekomendasi takaran dan waktu aplikasi pupuk N, P, K untuk setiap persil lahan sawah petani. Dalam menentukan takaran pupuk tersebut sudah dipertimbangkan masukan hara dalam bentuk bahan organik, anorganik, atau sumber lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Program ini dirancang oleh tim peneliti IRRI bersama Tim Teknis Kelompok Kerja Pemupukan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, agar PPL atau siapa saja mudah mengoperasikan piranti lunak tersebut. PuPS 1.0 ini diaplikasikan pemakai dengan  menggunakan komputer sehingga tidak perlu dilakukan perhitungan secara manual. Jika fasilitas komputer terbatas, tersedia file “lembar pertanyaan” berisi 11-13 pertanyaan untuk menghimpun data dari petani. Lembar pertanyaan yang telah terisi data kemudian diolah menggunakan fasilitas komputer yang tersedia. Piranti lunak PuPS  1.0 sudah dilengkapi program Microsoft Access 2003 yang dapat menyimpan serta mencetak data dan mencetak rekomendasi takaran dan waktu aplikasi pupuk.Dengan pemberian pupuk tepat takaran, tepat waktu, dan tepat jenis, maka pemupukan akan lebih efisien, hasil tinggi, dan pendapatan petani meningkat. Selanjutnya, pencemaran lingkungan dapat dihindari, kesuburan tanah tetap terjaga, dan produksi padi lestari.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini adalah contoh keluaran rekomendasi takaran pupuk berdasarkan luas lahan, varietas yang akan ditanam, serta hasil yang biasa dicapai petani. Tampak bahwa rekomendasi tersebut dapat dicetak (print) jika tersedia printer sebagai bahan catatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menunjang pelatihan tersedia publikasi tercetak yang berjudul (1) Modul Pemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi dan (2) Panduan Praktis Pengelolaan Hara.<br />
Pengguna dapat mengakses piranti lunak ini <a href="http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi." target="_blank">disini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=37&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/alat-bantu-untuk-menentukan-takaran-dan-waktu-pemberian-pupuk-pada-padi-sawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimba Pestisida Nabati Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/mimba-pestisida-nabati-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/mimba-pestisida-nabati-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 21:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[mimba]]></category>
		<category><![CDATA[pestisida nabati]]></category>
		<category><![CDATA[pestisida ramah lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Cara Kerja Mimba Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung azadirachtin sebagai senyawa aktif utama, meliantriol, salanin, dan nimbin. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=35&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Cara Kerja Mimba</strong><br />
Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung azadirachtin sebagai senyawa aktif utama, meliantriol, salanin, dan nimbin. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu juga berperan sebagai pemandul.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keunggulan Mimba</strong><br />
Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain: (a) di alam senyawa aktif mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen, (b) cara kerja spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak), (c) tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hasil penelitian telah diperoleh bahwa ekstrak air biji mimba 50 g/l yang diaplikasikan pada umur 8 hari efektif menekan serangan hama lalat kacang, Ophiomyia phaseoli pada tanaman kedelai. Cara ini sama dengan jika menggunakan Karbofuran (Curater 3 G-6 kg/ha), Fipronil (Regent 50 EC-2 ml/l), dan Klorfirifos (Petroban200 EC-2 ml/l) (Gambar 1) dengan memberikan nilai tambah sebesar Rp.80.400 per hektar, bila dibanding dengan tanpa pengendalian. Biji mimba yang diekstrak dengan pelarut air (50 g/l) ditambah 0,5 ml perata/ha juga efektif menekan serangan tungau merah pada ubikayu dengan mortalitas 70%. Pada tanaman kacang hijau ekstrak air biji mimba 50 g/l dapat menekan kehilangan hasil 13-45% terhadap hama penggerek polong Maruca testulalis, dan sebesar 21,5% terhadap hama Thrips bila dibanding tanpa pengendalian.Hasil pengamatan di  KP. Kendalpayak  pada MT 2007 menunjukkan bahwa populasi ulat grayak, Spodoptera litura dan kutu kebul, Bemisia tabaci pada kedelai varietas Burangrang, Kaba, Ijen, dan Anjasmoro yang disemprot insektisida kimia cukup tinggi, rata-rata 6 ekor ulat/6 ayunan dan 1300-1500 ekor kutu kebul/6 ayunan dibanding 1 ekor ulat/6 ayunan dan 100-700 ekor kutu kebul/6 ayunan pada varietas yang sama yang disemprot dengan serbuk biji mimba 50 g/l air. Pada perlakuan mimba populasi predator laba-laba juga masih dijumpai.</p>
<p><strong>Pembuatan Ekstrak Air Biji Mimba<br />
</strong>1. Kering anginkan biji mimba beserta kulit biji sampai kering agar tidak berjamur.<br />
2. Giling biji dan kulit biji mimba sampai halus, kemudian saring dengan ayakan 0,05 mesh.<br />
3. Timbang 25-50 g serbuk biji mimba + 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam semalam<br />
(12 jam).<br />
4. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing<br />
5. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa), aduk<br />
rata dan larutan siap disemprotkan.<br />
6. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, dengan volume semprot yang memadai<br />
400-600 liter air, tergantung umur tanaman yang akan disemprot</p>
<p><strong>Pembuatan Ekstrak Air Daun Mimba</strong><br />
1. Blender 50 g daun mimba segar dengan 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam<br />
semalam (12 jam).<br />
2. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing<br />
3. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa), aduk<br />
rata dan larutan siap disemprotkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=35&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/05/19/mimba-pestisida-nabati-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Electrical Conductivity (EC)</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/03/31/electrical-conductivity-ec/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/03/31/electrical-conductivity-ec/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[definisi]]></category>
		<category><![CDATA[ec]]></category>
		<category><![CDATA[electrical conductivity]]></category>
		<category><![CDATA[electrical conductivity chart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Electrical Conductivity (EC) Function: Soluble salts refer to the total dissolved salts in the root substrate (medium) at any given time and is measured in terms of electrical conductivity (EC). All fertilizer materials contribute to the EC content of the root substrate, most commonly these are nitrates (NO3), ammonium (NH4), phosphates (PO4), potassium (K), calcium [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=32&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Electrical Conductivity (EC)</strong></p>
<p><strong>Function:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Soluble salts refer to the total dissolved salts in the root substrate (medium) at any given time and is measured in terms of electrical conductivity (EC). All fertilizer materials contribute to the EC content of the root substrate, most commonly these are nitrates (NO<sub>3</sub>), ammonium (NH<sub>4</sub>), phosphates (PO<sub>4</sub>), potassium (K), calcium (Ca), magnesium (Mg), boron (B), iron (Fe), zinc (Zn), copper (Cu), sulfates (SO<sub>4</sub>), sodium (Na), bicarbonate (HCO<sub>3</sub>) and chlorides (Cl). Organic materials also contribute to the EC content after they have been changed from an insoluble to soluble form. Nitrogen and potassium are the fertilizer materials that most often contribute to the EC concentration of the root substrate. In some areas, high sodium in the irrigation water can also be a problem.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Deficiency:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">At the opposite end of the spectrum, when the EC content of the root substrate is too low, plant growth is <strong>stunted</strong> from lack of fertilizer</p>
<p><strong>Excess:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Excess salts accumulate when leaching during irrigation is insufficient, too much fertilizer is applied, or the irrigation water contains a high amount of dissolved elements. Excessively high EC readings are associated with <strong>poor plant growth</strong>. Plant symptoms often begin on the lower leaves as leaf chlorosis and progress to necrotic leaf tip margins. If the root substrate is allowed to dry down, plants may also exhibit wilting symptoms because of dieback of the root tips, which further inhibit water and fertilizer uptake. High EC has also been linked with the increased incidence of Pythium root rot.</p>
<p><strong>Confirm your actual EC levels by conducting a routine root substrate (medium) test.</strong></p>
<p><strong>Monitoring and Management Strategy for Electrical Conductivity (EC) Fertilization Rate:</strong></p>
<p>1.5 to 2.5 mS/cm. Optimal range is 25% to 50% lower with flood irrigation or reduced leaching fertilization programs.</p>
<p><strong>Options:</strong></p>
<p><strong>Preplant:</strong></p>
<p>Incorporation of fertilizer in the root substrate (medium) for a starter charge.</p>
<p><strong>Continual Fertilization:</strong></p>
<ol style="text-align:justify;" type="1">
<li>Use a fertilizer that provides N. Examples include calcium nitrate      (Ca(NO<sub>3</sub>)<sub>2</sub>) with potassium nitrate (KNO<sub>3</sub>),      20-10-20, 15-5-25, Excel® 15-5-15 Cal-Mag and others.</li>
<li>If using calcium nitrate (Ca(NO<sub>3</sub>)<sub>2</sub>) and      potassium nitrate (KNO<sub>3</sub>), remember to supply P, Mg, and      micro-nutrients to the plants.</li>
<li>If using 20-10-20 or 20-20-20, remember to supply Ca and Mg to the      plants.</li>
</ol>
<p><strong>Corrective Fertilization:</strong></p>
<p><strong>Too High EC:</strong></p>
<ol style="text-align:justify;" type="1">
<li>Decrease the fertilization rate or the frequency of fertilization.</li>
<li>Leaching will reduce the salts level. The root substrate should be      irrigated normally, then followed immediately with another irrigation.      After this, the root substrate should be allowed to dry to the usual      stage, and if further leaching is required, a double-irrigation treatment      can be repeated. Check the EC level again to make sure it is within the      acceptable range.</li>
</ol>
<p><strong>Too Low EC:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Increase the fertilization rate or the frequency of fertilization. See target levels listed under nitrogen.</p>
<p style="text-align:justify;">Electro &#8211; Conductivity (EC) or Conductivity Factor (cF) can be expressed as either millisiemens (mS), cF or parts per million (ppm).</p>
<p style="text-align:justify;">Example: 1mS = 10cF = 700ppm.</p>
<p style="text-align:justify;">The pH and Electro &#8211; Conductivity values specified here are given as a broad range. It should be noted that different seasons and climate will alter the needs of your plant. As a general rule, in cooler grow rooms, the plant requires higher nutrients. With warmer rooms, the plant requires lower levels of nutrients.</p>
<p><strong>Vegetable Crops</strong></p>
<p>L = Low   M = Medium   H = High</p>
<table border="1" cellpadding="0" width="80%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p align="center"><strong>Product</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>pH</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>Category</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>cF</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>ppm</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Artichoke</td>
<td>
<p align="center">6.5 &#8211; 7.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">8 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">560 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Asparagus</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.8</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">14 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Bean   (Common)</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 40</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 2800</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Beetroot</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 50</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 3500</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Broad Bean</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 22</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1540</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Broccoli</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.8</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">28 &#8211; 35</p>
</td>
<td>
<p align="center">1960 &#8211; 2450</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Brussels Sprout</td>
<td>
<p align="center">6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">25 &#8211; 30</p>
</td>
<td>
<p align="center">1750 &#8211; 2100</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Cabbage</td>
<td>
<p align="center">6.5 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">25 &#8211; 30</p>
</td>
<td>
<p align="center">1750 &#8211; 2100</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Capsicum</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 22</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1540</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Carrot</td>
<td>
<p align="center">6.3</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Cauliflower</td>
<td>
<p align="center">6.5 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">15 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1050 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Celery</td>
<td>
<p align="center">6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Cucumber</td>
<td>
<p align="center">5.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">17 &#8211; 25</p>
</td>
<td>
<p align="center">1190 &#8211; 1750</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Eggplant</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">25 &#8211; 35</p>
</td>
<td>
<p align="center">1750 &#8211; 2450</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Endive</td>
<td>
<p align="center">5.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Fodder</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Garlic</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">14 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Leek</td>
<td>
<p align="center">6.5 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">14 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Lettuce</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">8 &#8211; 12</p>
</td>
<td>
<p align="center">560 &#8211; 840</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Marrow</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Okra</td>
<td>
<p align="center">6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Onion</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.7</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">14 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pak &#8211; choi</td>
<td>
<p align="center">7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">15 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1050 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Parsnip</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">14 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pea</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">8 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pepino</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 50</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 3500</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Potato</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 25</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1750</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pumpkin</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 7.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Radish</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 22</p>
</td>
<td>
<p align="center">840 &#8211; 1540</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Spinach</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 23</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1610</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Silverbeet</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 23</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1610</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Sweet Corn</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">840 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Sweet   Potato</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 25</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1750</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Taro</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 5.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">25 &#8211; 30</p>
</td>
<td>
<p align="center">1750 &#8211; 2100</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Tomato</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 50</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 3500</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Turnip</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Zucchini</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Herbs</strong></p>
<table border="1" cellpadding="0" width="80%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p align="center"><strong>Product</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>pH</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>Category</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>cF</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>ppm</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Basil</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 16</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 1120</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Chicory</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Chives</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 22</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1540</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Fennel</td>
<td>
<p align="center">6.4 &#8211; 6.8</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 14</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 980</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Lavender</td>
<td>
<p align="center">6.4 &#8211; 6.8</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 14</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 980</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Lemon Balm</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 16</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 1120</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Marjoram</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Mint</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Mustard   Cress</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">12 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">840 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Parsley</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">8 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">560 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Rosemary</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 16</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 1120</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Sage</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 16</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 1120</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Thyme</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">8 &#8211; 16</p>
</td>
<td>
<p align="center">560 &#8211; 1120</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Watercress</td>
<td>
<p align="center">6.5 &#8211; 6.8</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">4 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">280 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Flower Crops</strong></p>
<table border="1" cellpadding="0" width="80%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p align="center"><strong>Product</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>pH</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>Category</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>cF</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>ppm</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>African   Violet</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">12 &#8211; 15</p>
</td>
<td>
<p align="center">840 &#8211; 1050</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Anthurium</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Antirrhinim</td>
<td>
<p align="center">6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Aphelandra</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Aster</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 -1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Begonia</td>
<td>
<p align="center">6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">14 &#8211; 18</p>
</td>
<td>
<p align="center">980 &#8211; 1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Bromeliad</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 7.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">8 &#8211; 12</p>
</td>
<td>
<p align="center">560 &#8211; 840</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Caladium</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Canna</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Carnation</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 35</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 2450</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Chrysanthemum</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 6.2</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 25</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1750</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Cymbidium</td>
<td>
<p align="center">5.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">L</p>
</td>
<td>
<p align="center">6 &#8211; 10</p>
</td>
<td>
<p align="center">420 &#8211; 560</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Dahlia</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">15 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1050 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Dieffenbachia</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Dracaena</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Fern</td>
<td>
<p align="center">6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Ficus</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Freesia</td>
<td>
<p align="center">6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">10 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">700 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Impatien</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1260 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Gerbera</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 25</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1750</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Gladiolus</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">20 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Monstera</td>
<td>
<p align="center">5.0 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">H</p>
</td>
<td>
<p align="center">18 &#8211; 24</p>
</td>
<td>
<p align="center">1400 &#8211; 1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Palm</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.5</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Rose</td>
<td>
<p align="center">5.5 &#8211; 6.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">15 &#8211; 25</p>
</td>
<td>
<p align="center">1050 &#8211; 1750</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Stock</td>
<td>
<p align="center">6.0 &#8211; 7.0</p>
</td>
<td>
<p align="center">M</p>
</td>
<td>
<p align="center">16 &#8211; 20</p>
</td>
<td>
<p align="center">1120 &#8211; 1400</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=32&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/03/31/electrical-conductivity-ec/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perilaku herbisida pada tanah</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/perilaku-herbisida-pada-tanah/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/perilaku-herbisida-pada-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 11:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[gulma]]></category>
		<category><![CDATA[herbisida]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku herbisida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan herbisida dalam dunia pertanian saat ini telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dalam era peningkatan mekanisasi dan program budidaya intensif ini, peran penggunaan herbisida dalam upaya meningkatkan hasil dan mengurangi biaya produksi semakin besar. Seperti kita ketahui bersama bahwa peran herbisida kini sangat penting dalam mengurangi jumlah gulma yang mengganggu tanaman utama. Dengan melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=26&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Perkembangan herbisida dalam dunia pertanian saat ini telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dalam era peningkatan mekanisasi dan program budidaya intensif ini, peran penggunaan herbisida dalam upaya meningkatkan hasil dan mengurangi biaya produksi semakin besar. Seperti kita ketahui bersama bahwa peran herbisida kini sangat penting dalam mengurangi jumlah gulma yang mengganggu tanaman utama. Dengan melakukan aplikasi herbisida secara teratur pada gulma di lahan kita , maka otomatis kita mengurangi biaya pembersihan gulma.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, penggunaan herbisida tersebut perlu mendapat perhatian yang serius mengingat pengendalian gulma secara kimiawi akan berhasil apabila herbisida tersebut selektif terhadap tanaman utama sekaligus ramah terhadap lingkungan. Dengan kata lain, aplikasi herbisida yang dilakukan haruslah bijaksana sehingga tidak hanya aman bagi tanaman namun juga sisa herbisida tersebut tidakmencemari lingkungan sekitar.</p>
<p style="text-align:justify;">Berhati-hati menggunakan herbisida dalam pengendalian gulma merupakan hal yang penting baik itu untuk herbisisda pra-tumbuh maupun purna-tumbuh mengingat persistensi herbisida dalam tanah setiap jenisnya berbeda-beda. Apalagi kini sudah banyak macam ragam dan jenis herbisida yang beredar di pasaran dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing. Persistensi merupakan kemampuan herbisida tetap berada pada tanah dalam keadaan tetap aktif. Informasi tentang persistensi pestisida sangat perlu agar penggunaannya dapat memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Persistensi ini merupakan ekspresi positif dan negatif dari herbisida itu sendiri. Semakin lama persistensi herbisida dalam tanah, maka akan semakin menguntungkan bila ditinjau dari segi efikasinya. Namun apabila ditinjau dari segi ekologi yang dikaitkan dengan kualitas lingkungan, maka persistensi herbisisda yang terlalu lama tentunya merupakan hal yang tidak diinginkan dan harus dihindari karena akan mencemari lingkungan sekitar.</p>
<p><span id="more-26"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan (gulma) yang menyebabkan penurunan hasil. Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan &#8220;asing&#8221; ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (<em>preemergence herbicide</em>) dan herbisida pascatumbuh (<em>postemergence herbicide</em>). Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum <a title="Benih" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benih"></a>benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif, yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Yang kedua diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses <a title="Anabolisme (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anabolisme&amp;action=edit&amp;redlink=1"></a>anabolisme senyawa penting seperti <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati"></a>pati, asam lemak atau <a title="Asam amino" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_amino"></a>asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang &#8220;normal&#8221; dalam proses tersebut. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan.</p>
<p>Contoh:</p>
<ul type="disc">
<li>glifosfat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena      berkompetisi dengan fosfoenol piruvat</li>
<li>fosfinositrin mengganggu asimilasi <a title="Nitrat (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nitrat&amp;action=edit&amp;redlink=1"></a>nitrat dan amonium karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sejumlah produsen herbisida mendanai pembuatan <a title="Tanaman transgenik (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanaman_transgenik&amp;action=edit&amp;redlink=1"></a>tanaman transgenik yang tahan terhadap herbisida. Dengan demikian penggunaan herbisida dapat diperluas pada tanaman produksi tersebut. Usaha ini dapat menekan biaya produksi dalam pertanian berskala besar dengan mekanisasi. Contoh tanaman tahan herbisida yang telah dikembangkan adalah raps (kanola), jagung, kapas, padi, kentang, kedelai, dan bit gula.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemakaian herbisida menuai kritik karena menyebarkan bahan kimia yang berbahaya bagi tumbuhan bukan sasaran. Meskipun sebagian besar herbisida masa kini tidak berbahaya bagi manusia dan hewan, herbisida yang tersebar (karena terbawa angin atau terhanyut air) berpotensi mengganggu pertumbuhan tumbuhan lainnya. Karena itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah terurai oleh mikroorganisme di tanah atau air.</p>
<p style="text-align:justify;">Kritik lainnya ditujukan pada pemakaian tanaman transgenik tahan herbisida tertentu. Meskipun dapat menekan biaya, teknologi ini bermotifkan komersial (meningkatkan penggunaan herbisida merek tertentu). Selain itu, teknologi ini dianggap tidak bermanfaat bagi pertanian non mekanik (pertanian dengan padat karya) atau berlahan sempit.</p>
<p style="text-align:justify;">Dewasa ini penggunaan herbisida dibidang pertanian, kehutanan, perkebunan dan lingkungan tempat tinggal telah mengalami peningkatan yang signifikan dan menjadi bagian penting dari system pertanian modern. Bersama-sama dengan adopsi varietas unggul, penggunaan pupuk anorganik, perbaikan system pengairan, dan penggunaan alat-alat berat, penggunaan herbisida dan jenis pestisida lainnya telah memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap peningkatan produktivitas pertanian.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa jenis pestisida yang banyak digunakan di lahan pertanian menggunakan bahan aktif 1,1&#8242;-dimetil-4,4&#8242;-bipiridin (paraquat) yang digolongkan sebagai herbisida golongan piridin yang bersifat kontak tak selektif dan dipergunakan secara purna tumbuh. Bahan aktif pada herbisida merupakan senyawa toksik yang keberadaannya dalam tanah (20 ppm) mampu menghambat pertumbuhan bakteri <em>Azotobacter</em> dan <em>Rhizobium</em> yang berperan dalam fiksasi nitrogen. Selain itu bahan aktif yang terkandung dalam herbisida juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri <em>E coli</em> dan alga di dalam tanah. Bahan aktif pada herbisida merupakan bagian dari kelompok senyawa bioresisten yang sulit terdegradasi secara biologis.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahan aktif pada herbisida relatif stabil pada suhu, tekanan serta pH yang normal, sehingga memungkinkan untuk tinggal lebih lama di dalam tanah. Bahan aktif ini juga mudah larut dalam air sehingga memungkinkan untuk tercuci oleh air hujan atau air irigasi sehingga dapat mencemari lingkungan atau system perairan.</p>
<p style="text-align:justify;">Absorbsi dan desorbsi herbisida oleh permukaan padatan tanah diketahui sebagai proses penting yang mampu mempengaruhi perilaku herbisida di dalam tanah dan lingkungan. Ketika senyawa herbisida kontak dengan tanah, baik karena aplikasi, terjatuh, atau tertumpah, atau karena terbawa oleh air hujan dan irigasi, sebagian akan tertahan dan tertinggal di dalam tanah melalui proses absorbsi, sebagian lagi akan berada di dalam air diantara partikel-partikel tanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Absorbsi ini mampu menurunkan konsentrasi senyawa herbisida didalam larutan tanah sehingga menghalangi mobilitas senyawa tersebut menuju system perairan. Senyawa herbisida yang terabsorbsi bersifat pasif, tidak tersedia untuk proses fisik, kimia, maupun biologi sampai terjadinya desorbsi. Bahan organic tanah diketahui sebagai komponen tanah yang mempunyai peranan sangat penting dalam proses absorbsi dan desorbsi herbisida di dalam tanah dan lingkunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Absorbsi herbisida sangatdipengarui oleh luas permukaan absorben. Semakin luas permukaan absorben semakin tinggi kemungkinan terjadi absorbsi karena semakin banyak site yang tersedia untuk permukaan absorbsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Herbisida merupaan pestisida kationik dengan kelarutan di dalam air sangat tinggi. Bahan aktif yang terkandung dalam herbisida merupakan pestisida kationik (divalent), sehingga berpotensi mengalami pertukaran kation di dalam tanah. Ion paraquat dapat bereaksi dengan lebih dari satu ion COO<sup>-</sup> koloid organic tanah. Paraquat akan bereaksi dan diikat oleh dua gugus reaktif koloid organic tanah, mungkin oleh ion COO<sup>-</sup>, fenolat O<sup>-</sup>, kombinasi keduanya, atau kombinasi salah satu ion tersebut dengan radikal bebas. Semakin tinggi kandungan bahan organic tanah, semakin tinggi kandungan gugus reaktif yang dimilikinya, semakin tinggi jumlah herbisida yang terabsorbsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Interaksi bahan organic terlarut dengan herbisida memungkinkan ia bertindak sebagai agen pembawa herbisida dan mencegah absorbsi herbisida oleh fase padat. Keberadaan bahan organic terlarut mampu menurunka absorbsi atrazin dan promertrin oleh tanah dan meningkatkan transport senyawa tersebut menuju system perairan. Peningkatan bahan organic tanah diikuti peningkatan bahan organic tanah terlarut sehingga menurunkan absorbsi herbisida oleh permukaan bahan organic tanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya hubungan yang kompleks antara herbisida, tanah, iklim maupun organisme yang berada di dalam tanah merupakan penyebab terjadinya keragaman persistensi herbisida dalam tanah. Oleh karena itu agar penggunaannya sesuai dengan yang diharapkan dan efek negatifnya terhadap lingkungan dapat ditekan maka pemahaman akan faktor-faktor yang mempengaruhinya perlu mendapat perhatian antara lain sebagai berikut:</p>
<p><strong>A. </strong><strong>Dekomposisi mikroorganisme dan bahan organik tanah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dekomposisi (penguraian) herbisida dalam tanah dapat terjadi apabila herbisida itu telah lama berada dalam tanah sebelum terabsorbsi oleh akar gulma. Dekomposisi ini sangat tergantung pada jenis herbisidanya, ada yang sukar dan ada pula yang mudah terurai. Herbisida organik merupakan herbisida yang mudah terurai karena menyediakan sumber karbon bagi mikroorganisme tanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kandungan bahan organik tanah merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme. Pada tanah yang memiliki kandungan bahan organik cukup tinggi maka populasi mikroorganisme akan meningkat sehingga proses dekomposisipun akan meningkat. Proses dekomposisi oleh mikroorganisme tanah dipengaruhi oleh mineral nutrien, temperatur, pH, kandungan air dan oksigen dalam tanah. Apabila aerasi tidak berjalan normal, pada tanah yang kering dan dingin maka proses dekomposisi akan berjalan lambat.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Jumlah herbisida yang diabsorbsi koloid tanah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam tanah, herbisida berada dalam larutan tanah atau akan diabsorbsi (diserap) oleh koloid tanah. Komponen tanah yang paling utama dalam menentukan persistensi herbisida adalah kandungan liat tanah. Kandungan liat dengan tipe 2 :1 mempunyai kemampuan mengabsorbsi lebih besar dibandingkan 1 : 1. Artinya, pada tanah yang memiliki kandungan liat lebih banyak akan lebih mudah mengabsorbsi herbisida dibandingkan tanah yang memiliki kandungan pasir dan liat yang sama.</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Penguapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penguapan merupakan proses hilangnya herbisida pada tanah. Sebenarnya yang dimaksud hilang disini adalah terjadi proses fisik dari cair menjadi gas atau yang disebut penguapan. Hilangnya herbisida yang menguap bersama bahan aktifnya secara langsung maupun tidak akan mengurangi daya fitotoksisitasnya. Proses penguapan itu sendiri dipengaruhi oleh kelarutan herbisida dalam air, daya absorbsi tanah, kelembaban tanah, keasaman tanah dan suhu.</p>
<p><strong>D. </strong><strong>Pencucian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pencucian merupakan suatu proses merembesnya herbisida ke tempat yang lebih dalam atau berpindahnya herbisida tersebut dari tempat semula. Proses pencucian ini tergantung pada kelarutan herbisida dalam air, jumlah air yang merembes ke lapisan bawah dan hubungannya dengan kemampuan absorbsi tanah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>E. </strong><strong>Fotodekomposis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Proses fotodekomposis tidak jauh berbeda dengan dekomposis mikroorganisme, hanya saja perbedaan yang mendasar adalah proses penguraian senyawa kimia herbisida tersebut menjadi senyawa lain disebabkan oleh cahaya matahari. Faktor-faktor yang mempercepat proses foto dekomposisi ini adalah suhu permukaan yang tinggi, kegiatan mikroorganisme, reaksi kimia yang terjadi dalam tanah dan absorbsi oleh tanah.</p>
<p><strong>F. </strong><strong>Vegetasi</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Vegetasi merupakan kelompok tanaman/tumbuhan yang menutupi permukaan tanah. Dalam hal ini vegetasi tergantung dari tanaman yang dibudidayakan. Hubungan antara vegetasi dengan persistensi herbisida dapat digambarkan sebagai berikut : Ketersediaan herbisida bagi vegetasi tergantung pada jumlah herbisida dalam larutan tanah serta laju transportasi melalui aliran massa. Maka dalam proses ini air memegang peranan yang sangat penting Selain air, kerapatan, jenis vegetasi dan fase pertumbuhan juga menentukan bagaimana tanggapan vegetasi tersebut terhadap pestisida.</p>
<p><em><strong> </strong></em></p>
<p><strong>G. </strong><strong>Jenis herbisida</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diantara beberapa faktor yang ada, mungkin inilah yang paling dapat kita kontrol karena kita dapat memilih herbisisda jenis apa yang cocok sekaligus aman bagi tanaman. Struktur molekul kimia dari suatu herbisida akan menentukan persistensinya dalam tanah. Dengan bahan aktif yang beragam tentu saja membuat herbisida yang ada di pasaran saat ini memiliki daya persistensi yang berlainan pula. Secara umum menurut Kearney dalam Dad Resiworo (1992), kelompok herbisida yang mempunyai perstensi paling rendah sampai nilai paling tinggi berturut-turut adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.Kelompok organofosfat<br />
2. Kelompok karbamat, asam alifatik<br />
3. Kelompok fenoksi, tolouidin, nitril<br />
4. Kelompook asam benzoat, amida<br />
5. Kelompok urea, triazin , pikloram</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan uraian di atas maka tidakkah lebih bijaksana apabila kita menyeleksi dan mengetahui secara jauh bagaimana sifat-sifat suatu herbisida sebelum kita menggunakannya. Pemikiran tersebut dimaksudkan agar selain kita bisa menggunakan herbisida yang tepat sasaran, dan efektif serta selektif tetapi juga dalam jangka panjang hasil aplikasi herbisida tersebut tidak menyebabkan pencemaran yang lebih besar lagi. Karena semakin banyak kita mencemari lahan pertanian kita, maka tingkat produktivitas dan kualitas lahan tersebut semakin lama semakin menurun.</p>
<p style="text-align:center;">-raditya.aj-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=26&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/perilaku-herbisida-pada-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Transgenik sebagai solusi yang ditakuti</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/18/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/18/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 09:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[dampak transgenik]]></category>
		<category><![CDATA[tanaman transgenik]]></category>
		<category><![CDATA[transgenik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Negara-negara berkembang diperhadapkan dengan masalah pertambahan penduduk, dan diperkirakan  lebih dari 900 juta dari 5.8 miliar penduduk dunia mengalami kelaparan. Pada tahun 2025 penduduk dunia diperkirakan 8 miliar dengan sebagian kelahiran baru terjadi di negara-negara berkembang. Asia akan menjadi tempat tinggal kira-kira 4 miliar orang dan tiap orang memerlukan cukup pangan, sedangkan produksi belum dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=18&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;">Negara-negara berkembang diperhadapkan dengan masalah pertambahan penduduk, dan diperkirakan  lebih dari 900 juta dari 5.8 miliar penduduk dunia mengalami kelaparan. Pada tahun 2025 penduduk dunia diperkirakan 8 miliar dengan sebagian kelahiran baru terjadi di negara-negara berkembang. Asia akan menjadi tempat tinggal kira-kira 4 miliar orang dan tiap orang memerlukan cukup pangan, sedangkan produksi belum dapat mengatasi kebutuhan manusia. Hal ini diperparah  dengan berkurangnya lahan pertanian karena kebutuhan manusia akan tempat tinggal dan perkembangan pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rekayasa genetika memiliki potensi sebagai teknologi yang ramah lingkungan . Selain ramah lingkungan  teknologi rekayasa genetika diharapkan akan dapat membantu mengatasi masalah pembangunan pertanian yang tidak lagi dapat dipecahkan secara konvensional. Contohnya dalam rangka meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah salah satu kendala utamanya adalah adanya gangguan hama dan penyakit. Survei sekilas dari literatur majalah ilmiah mengenai tanaman transgenik menunjukkan bahwa tanaman transgenik dibuat untuk beberapa tujuan yaitu : pengembangan teknik transformasi baru, studi dasar mengenai peranan atau fungsi suatu gen, dan perbaikan tanaman untuk tujuan khusus. Dengan rekayasa genetika sudah dihasilkan tanaman transgenik  yang memiliki sifat  baru seperti tanaman  transgenik yang tahan terhadap hama, tanaman kedelai yang tahan terhadap herbisida  dan tanaman transgenik yang mempunyai kualitas hasil yang tinggi.</p>
<p><span id="more-18"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kemajuan ini sangat penting dan dalam kenyataan jumlah tanaman transgenik yang diproduksi setiap tahun semakin meningkat. Hingga tahun 1988 hanya ada sekitar 23 tanaman transgenik. Jumlah tersebut meningkat menjadi 30 pada tahun 1989 dan lebih dari 40 pada tahun 1990. Tanaman transgenik direkayasa pertama kali pada tahun 1980-an. Hall, Kemp dan kawan-kawan telah mentransfer gen b-faseolin dari kacang-kacangan ke kromosom bungan matahari. Perkembangan lebih lanjut telah memungkinkan untuk melakukan transformasi genetik ke eksplan yang mampu beregenerasi seperti daun, batang dan akar. Terobosan terakhir dalam hal meregenarasikan tanaman monokot transgenik telah menghilangkan penghambat utama dalam usaha untuk perbaikan sifat  tanaman serealia.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknologi rekayasa genetika merupakan  transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya dimana dapat bersifat antar gen dan dapat pula lintas gen. Rakayasa genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen.Gen yang telah  diidentikfikasi diisolasi dan kemudian dimasukkan ke dalam  sel tanaman.    Melalui  suatu sistem tertentu, sel tanaman yang  membawa  gen tersebut dapat dipisahkan dari sel tanaman yang  tidak  membawa gen.  Tanaman  pembawa  gen  ini  kemudian  ditumbuhkan secara normal.  Tanaman inilah yang disebut sebagai tanaman transgenik karena ada  gen  asing  yang  telah dipindahkan dari makhluk  hidup lain ke tanaman tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Istilah pangan transgenik merujuk pada pangan yang bahan dasarnya ,mengandung organisme yang telah mengalami rekayasa genetika. Dengan teknologi itu, gen dari berbagai sumber dapat dipindahkan ke tanaman. Gen bisa berasal dari manusia, binatang, tumbuhan lain, bakteri, virus, bahkan DNA telanjang yang ditemukan di tanah. Gen adalah kumpulan asam deoksiribo nukleat (DNA) yang mengatur dan mengendalikan sifat makhluk hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Laju perkembangan bioteknologi seakan tak terbendung. Ratusan macam komoditas hasil rekayasa genetika telah berhasil diciptakan Hingga saat ini sudah ratusan gen dari berbagai sumber yang berhasil dipindahkan ke tanaman dan memunculkan ratusan jenis varietas tanamana baru, disebut tanaman transgenik. Sebagian besar tanaman transgenik belum dipasarkan. Hingga tahun 2000, baru 24 jenis varietas tanaman transgenik dikomersialisasikan di Amerika. Tahun ini diperkirakan lebih dari 30 varietas tanaman transgenik dipasarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini ada empat Tanaman Transgenik utama yaitu: kedelai transgenik yang menguasai 36 persen dari 72 juta hektar (ha) area global tanaman kedelai, kapas transgenik yang mencakup 36 persen dari 34 juta hektar, kanola transgenik , 11 persen dari 25 juta hektar, dan jagung transgenik, 7 persen dari 140 juta hektar. Berdasarkan luas area penanaman dan sifat baru yang disisipkan, kedelai transgenik tahan herbisida menduduki ranking pertama (25,8 juta hektar) diikuti jagung Bt (tahan ulat pengerek), kanola tahan herbisida, jagung tahan herbisida, kapas tahan herbisida, kapas Bt dan tahan herbisida, kapas Bt, serta jagung Bt dan tahan herbisida.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedelai transgenik yang telah dikomersialkan secara global hanya ada dua jenis yaitu kedelai toleran herbisida dan kedelai dengan kandungan asam oleat (asam lemak) tinggi. Data dari AgBios data base menyebutkan bahwa kedelai transgenik dengan kandungan asam oleat tinggi telah memperoleh ijin komersialisasi di 4 negara setelah memperoleh status aman pangan di negara Kanada (th 2000), Jepang (2001), AS (1997), dan Australia 2000); aman pakan di 3 negara, Kanada (th 2000), Jepang (2000), dan AS (1997); dan aman lingkungan di 3 negara, Kanada (th 2000), Jepang (1999), dan AS (1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan kedelai transgenik toleran herbisida pada tahun 2006 ditanam oleh sembilan negara yaitu AS, Argentina, Brazil, Paraguay, Kanada, Uruguay, Afrika Selatan, Rumania, dan Meksiko, dengan dengan luas 58, 6 juta ha atau 57% dari total luas tanaman transgenik secara global yaitu 102 juta ha.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedelai transgenik hanya dapat dikomersialkan kalau sudah dilakukan pengkajian keamanan lingkungan yang meliputi pengujian weediness, out crossing, secondary and non-target (predator, parasit, serangga berguna) adverse effects, dan impact on biodiversity di confined field trial (lapangan uji terbatas) dan dinyatakan &#8220;aman lingkungan&#8221;. Selain itu harus melalui pengkajian keamanan pangan dan pakan yang meliputi pengujian alergenisitas, toksisitas, dietary exposure, dan analisa nutritional, dan dinyatakan &#8220;aman pangan/pakan&#8221;. Dibandingkan dengan tanaman non transgenik, tanaman transgenik harus melalui pengkajian keamanan lingkungan, keamanan pangan/pakan secara komprehensif dengan metode ilmiah dan sahih. Ketetapan aman pangan, pakan, dan aman lingkungan diberikan oleh Lembaga Pengatur (regulatory bodies) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada di masing-masing negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Rekayasa genetika dalam bibit pangan nabati telah berkembang dengan luas begitu pula produk rekayasa genetika pada hewan misalnya produksi hormon untk peningkatan kuantitas maupun kualitas dari pangan hewani. Dengan adanya produk-produk rekayasa genetika tersebut  dapat dikatakan bahwa produk rekayasa genetika khususnya  bahan pangan  mengintroduksi unsur toksis, bahan-bahan asing dan berbagai sifat yang belum dapat dipastikan dan berbagai karakteristik lainnya. Oleh karena itu muncullah berbagai kekhawatiran  dalam menggunakan dan mengkonsumsi  bahan pangan transgenik. Kekhawatiran dapat bersifat ilmiah  yang dibuktikan dengan berbagai hasil percobaan, tetapi ada pula kekhawatiran yang disebut kekhawtiran logika (public anxiety).</p>
<p style="text-align:justify;">Keberadaan tanaman transgenik dikhawatirkan, tentu bukan tanpa alasan. Tanaman itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu &#8211; disebut <em>transgene</em> &#8211; bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).</p>
<p style="text-align:justify;">Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah <em>Bacillus thuringiensis</em> (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh <em>boll-worm</em>, hama perusak tanaman kapas. Yang menjadi kekhawatiran banyak pihak adalah selain efektif melawan hama sasaran, toksin juga teridentifikasi mematikan serangga lain (non target). Bila hal ini terjadi, salah satu komponen ekosistem akan musnah, dan keseimbangan alam akan terganggu</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya reaksi alergis pada manusia satu-satunya dampak negatif  gangguan kesehatan yang disebabkan mengkonsumsi bahan pangan transgenik yang sudah dapat dibuktikan melalui percobaan  skinprick testing. Hal ini dibuktikan oleh Nordlee dan kawan-kawan pada tahun 1996. Oleh karena itu seluruh gen  yang dipergunakan maupun produk yang telah dihasilkan ditarik dari peredaran, sehingga dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada lagi dijumpai keberadaan dampak negatif mengkonsumsi pangan transgenik terhadap gangguan kesehatan pada manusia. Disamping hal positif terdapat kekhawatiran dari sebagian masyarakat bahwa tanaman transgenik akan mengganggu, merugikan dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Berikut akan diuraikan mengenai kekhawatiran dan fakta yang mendukung bahwa tanaman transgenik merupakan produk yang aman</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemungkinan menimbulkan keracunan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada kekhawatiran apabila manusia memakan organisme khususnya tanaman transgenik yang mengandung gen Bt-endotoxin akan mati karena keracunan. Kekhawatiran tersebut didasari oleh sifat beracun dari gen Bt terhadap serangga, karena serangga yang memakan tanaman transgeniktersebut akan mati akibat racun gen Bt. Pendapat ini tidak benar karena gen Bt hanya akan bekerja secara aktif dan bersifat racun apabila bertemu sinyal penerima (receptor) di dalam usus serangga dari golongan yang sesuai dengan dengan virulensinya. Gen Cry I       hanya manjur untuk serangga golongan Lepidoptera sedangkan gen Cry III hanya untuk Coleoptera. Usus serangga mempunyai pH basa sedangkan usus manusia mempunyai pH asam dan tidak memiliki sinyal penerima Bt. Menurut hasil penelitian gen Bt tidak stabil dan aktif pada pH lebih kecil dari  lima. Selain itu sejak puluhan tahun yang lalu Bt-toxin telah digunakan oleh petani di negara maju sebagai pestisida hayati yang aman baik terhadap hewan, serangga berguna maupun manusia. Oleh karena itu secara ilmiah tanaman transgenik yang mengandung gen Cry tidak akan beracun terhadap manusia</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemungkinan menimbulkan alergi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kekhawatiran lain dari tanaman hasil rekayasa genetik adalah sebagai penyebab alergi. Satu sampai dua persen orang dewasa dan 4-6% anak-anak menderita alergi akibat makanan. Beberapa komoditas yang digunakan sebagai bahan makanan diketahui dan dikenal sebagai sumber bahan penyebab alergi (allergen) seperti brazil nut,  crustacean, gandum, ikan, kacang tanah, kedelai dan padi. Sebagai peneliti sebelum mengisolasi gen interes dari suatu komoditas untuk digunakan dalam  perakitan tanaman transgenik kita harus mengetahui terlebih dahulu sumber-sumber allergen. Penggunaan gen yang berasal dari sumber allergen harus benar-benar dihindari.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu studi kasus yang relevan yang telah dilakukan adalah perakitan tanaman transgenik untuk memperoleh kedelai dengan kandungan metionin tinggi, karena diketahui tanaman kedelai mempunyai kandungan metionin rendah. Oleh karena itu dilakukan isolasi gen metionin dari tanaman brazil nut yang mengandung metionin tinggi dan ditransfer ke tanaman kedelai. Perakitan tersebut berjalan dengan sukses dan diperoleh tanaman kedelai yang mengandung gen metionin. Tetapi setelah dilakukan pengujian sifat alergi terhadap manusia melalui uji skin prick ternyata hasilnya positif menyebabkan alergi. Sebagai akibat dari hasil pengujian tersebut maka pengembangan proyek kedelai transgenik dengan kandungan metionin tinggi dihentikan dan produk tersebut tidak dapat dikomersialkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua allergen adalah protein tetapi tidak semua protein adalah allergen. Makanan atau bahan pangan mengandubng puluhan ribu protein, tetapi sedikit sekali yang bersifat allergen. Allergen dijumpai dalam jumlah yang tinggi di dalam makanan atau bahan pangan, sebaliknya kandungan protein dari gen interes berjumlah sangat sedikit. Semua protein allergen bersifat stabil  dan memerlukan waktu yang lama untuk dicerna di dalam sistim pencernaan. Sifat tersebut sangat berbeda dengan protein tanaman dimana gen donor hanya dalam waktu beberapa detik sudah dapat dicerna. Selain itu diketahui pula bahwa semua allergen terdapat dalam konsentrasi tinggi dalam makanan serta stabil dan aktif pada suhu lebih besar 65<sup>o</sup>C dan pH 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen donor sebagai bahan gen transgenik tidak stabil dan aktif pada suhu lebih besar dari 65<sup>o</sup>C dan pH 5, sehingga apabila dilakukan pemanasan dalam proses memasak makanan tidak berfungsi lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemungkinan menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia dan tahan antibiotik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada kekhawatiran lain bahwa penggunaan marka tahan antibiotik seperti kanamycin resistant (Kan-R) dalam tanaman transgenik menyebabkan bakteri di dalam tubuh  menjadi resisten terhadap antibiotik. Kemungkinan bakteri di dalam tubuh menjadi resisten karena transfer horizontal gen Kan-R dari tanaman transgenik yang dikonsumsi ke bakteri di dalam usus adalah sangat kecil. Gen Kan-R yang ditransfer ke tanaman melalui rekayasa genetika akan terinkorporasi ke dalam genom tanaman. Sedangkan tanaman tidak mempunyai suatu mekanisme untuk mentransfer gen yang sudah terinkorporasi tersebut  ke bakteri. Terjadinya transformasi pada bakteri memerlukan suatu kesamaan homologi yang tinggi antara utas DNA donor dan DNA penerima. Selain itu gen yang ada pada tanaman  berada di bawah komando promotor tanaman yang tidak akan bekerja pada bakteri. Cara yang lebih cepat untuk menjadikan  bakteri dalam tubuh menjadi resisten terhadap antibiotik adalah dengan mengkonsumsi antibiotik yang berlebihan sewaktu orang sedang sakit. Menurut penelitian, manusia diestimasi telah mengkonsumsi 1 juta jasad renik tahan kanamicin melalui bahan pangan seperti sayur-sayuran mentah. Disamping itu secara alami 4 triliun bakteri tahan kanamicin sudah ada dan menghuni usus manusia. Pernah juga dikatakan adanya resistensi terhadap beberapa jenis antibiotika apabila mengkonsumsi pangan transgenik, tetapi setelah diteliti penyebabnya bukan disebabkan karena penggunaan bahan pangan transgenik tetapi adanya residu antibiotita yang berlebihan pada air susu yang diproduksi  dengan menggunakan bahan transgenik. Setelah ditelusuri  ternyata sapi-sapi yang disuntik hormon bovinesomatothropine (rBST) menghasilkan produksi susu yang meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama produk rekayasa tanaman transgenik dilakukan dengan memasukkan prinsip-prinsip etika moral maka tanaman transgenik tersebut tidak berbahaya bagi konsumen. Sebagai contoh, di Indonesia pada awal tahun 2001 dihebohkan dengan kasus penyedap rasa (monosodium glutamat) yang diproduksi dengan menggunakan  enzim yang diisolasi dari gen babi yang haram hukumnya bagi mereka yang menganut agama Islam. Hal ini dapat dikategorikan sebagai kekhawatiran yang berdampak negatif mengkonsumsi bahan transgenik terhadap gangguan etis dan agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia sampai saat ini belum ada lagi laporan ilmiah yang telah dibuktikan menyatakan bahwa mengkonsumsi pangan transgenik menyebabkan gangguan kesehatan selain reaksi alergis (hal inipun gen dan produknya telah ditarik dari persedaran) maka dapat dikatakan pada saat ini pangan transgenik belum berbahaya bagi kesehatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkait dengan pangan transgenik dikembangkan pendekatan substantial equivalence, yaitu membandingkan pangan transgenik dengan pangan konvensionalnya. Bila keduanya sama (tidak berarti harus identik), memiliki status nutrisi sama serta serta tidak memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan, maka pangan transgenik tersebut aman dikonsumsi. Namun kontroversi masih terjadi, karena sebagai produk teknologi baru risiko jangka panjangnya belum diketahui. Ilmuawan sendiri, tidak akan pernah mampu menyatakan bahwa suatu produk 100 persen aman karena risiko sekecil apapun akan tetap ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Diluar kontroversi yang tengah diributkan dalam hal pelestarian keragaman hayati malah sudah ada contoh nyata di mana organisme transgenik justru menjadi penyelamat terhadap kepunahan suatu spesies. Pohon chesnut (Castanea dentata) pada mulanya merupakan tanaman dominan yang tersebar luas di Amerika Utara. Serangan cendawan Cryphonectria parasitica telah menghancurkan kejayaan tanaman ini hingga berada di ambang kepunahan. Saat ini telah dilakukan rekayasa genetik sehingga kromosom C. parasitica mengandung gen dari mycovirus yang membuat keganasannya berkurang (hypovirulent). C. parasitica transgenik tersebut ternyata sangat membantu dalam menangkal serangan C. parasitica tipe liar di alam, yang pada gilirannya dapat menyelamatkan tanaman chesnut dari kepunahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah merebaknya kabar bahwa tanaman transgenic ditolak oleh negara-negara maju ternyata justru negara-negara tersebut mengeluarkan ijin untuk tanaman transgenic.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>IJIN DI JEPANG </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Galur (event) kedelai transgenik dengan kandungan asam oleat tinggi:<br />
G94-1, G94-19, G168 mengandung gen GmFad2-1 yang mengkode enzim delta(12)-fatty acid dehydrogenase (Glycine max) masing memperoleh ketetapan aman pangan pada th 2001,aman pd th 2000, dan aman lingkungan pd th 1999.</p>
<p style="text-align:justify;">Galur (event) kedelai transgenik toleran herbisida:<br />
GTS 40-3-2 dan MON89788 mengandung gen CP4 epsps (toleran herbisida glyphosate) masing-masing memperoleh ketetapan aman pangan pada th 1996 dan th 2007. A5547-127 mengandung gen PAT (toleran herbisida glufosinate) aman pangan (th 2005), aman pakan dan aman lingkungan (th 2006) A2704-12, A2704-21, A5547-35 mengandung gen PAT (toleran herbisida glufosinate) aman pangan (th 2002), aman pakan (th 2003), dan aman lingkungan (th 1999).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> IJIN DI EROPA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Galur (event) kedelai transgenik toleran herbisida:<br />
GTS 40-3-2 mengandung gen CP4 epsps (toleran herbisida glyphosate) memperoleh ketetapan aman pangan di Switzerland (th 1996), Czech Republic (th 2001), Rusia (th 2002), dan Uni Eropa (th 2005).</p>
<p style="text-align:justify;">Introduksi tanaman transgenik atau produk pangan yang dihasilkannya perlu dievaluasi dengan hati-hati sebagaimana yang dilakukan pada proses pelepasan sejumlah varitas tanaman atau pemasaran produk pangan baru. Selama produk rekayasa tanaman transgenik dilakukan dengan memasukkan prinsip-prinsip etika moral dan agama, tidak berbahaya bagi konsumen, tidak mengganggu kelestarian hayati dan tidak merusak lingkungan sebaiknya kita menyikapinya dengan bijaksana.</p>
<p style="text-align:center;">-raditya.aj-</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=18&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah di Indonesia</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/perkembangan-pemuliaan-padi-sawah-di-indonesia/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/perkembangan-pemuliaan-padi-sawah-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 02:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[padi sawah]]></category>
		<category><![CDATA[pemuliaan padi sawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Menurut jurnal Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah Di Indonesia yang disusun oleh U. Susanto, A.A. Daradjat, dan B. Suprihatno, dapat diketahui bahwa  varietas unggul padi sawah merupakan kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di Indonesia. Perakitan varietas padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta minat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=13&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Menurut jurnal Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah Di Indonesia yang disusun oleh U. Susanto, A.A. Daradjat, dan B. Suprihatno, dapat diketahui bahwa  varietas unggul padi sawah merupakan kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di Indonesia. Perakitan varietas padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta minat masyarakat. Menurut Daradjat, varietas padi sawah digolongkan dalam empat tipe yang tahan hama dan penyakit utama serta memiliki mutu yang baik, yaitu tipe Bengawan, tipe PB5, tipe IRxx, dan tipe IR64.</p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemuliaan Padi Sawah Tipe Bengawan (1943-1967)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Persilangan padi di Indonesia dimulai pada tahun 1920-an dengan memanfaatkan genepool yang dibangun melalui introduksi tanaman. Sampai dengan tahun 1960-an pemliaan padi diarahkan pada lahan dengan pemupukan yang rendah, atau tanaman kurang responsive terhadap pemupukan. Pelepasan varietas padi pertama kali dilakukan pada tahun 1943, yaitu varietas. Pembentukanya dilakukan dengan menyilangkan beerapa tetua, kemudian dari turunannya dipilih tanaman yang mempunyai sifat yang baik. Persilangan dilakukan dengan single cross, double cross, dan back cross. Metode pemuliaan yang digunakan adalah metode bulk (tahun 1950-an), kemudian beralih ke metode pedigree.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemuliaan Padi Sawah Tipe PBS (1967-1985)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kebutuhan akan beras yang terus meningkat menuntut peningkatan produktivitas padi dengan segera. Pada tahun 1967 dilepas dua varietas introduksi yaitu PB8 dan PB5. Selain dilepas sebagai varietas unggul baru, varietas introduksi juga merupakan sumber gen untuk memperbaiki sifat-sifat varietas yang sudah ada. Persilangan PB5 dengan Sinta menghasilkan Pelita I-1 dan Pelita I-2. Dari dua varietas tersebut selanjutnya berkembang lagi menghasilkan Cisadane dan Sintanur.</p>
<p style="text-align:justify;">Metode pemuliaan yang digunakan adalah metode pedigree, namun sejak tahun 1976 diterapkan juga metode bulk tanam rapat yang ternyata lebih praktis, mudah, dan murah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemuliaan Padi Sawah Tipe IRxx (1977-&#8230;.)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Latar belakang genetic tetua varietas tipe IRxx adalah varietas local yang berasal dari berbagai negara Asia, Afrika, dan Amerika. Metode pemuliaan yang digunakan merupakan metode pemuliaan modern seperti Quantitative Trait Loci (QTL) dan Marker Assisted Selection (MAS) untuk menyeleksi genotype yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh varietas / galur tipe IRxx adalah IR26, IR28, IR 29, IR30, IR34 (tahan wereng coklat biotipe 1), IR32, IR36, IR42, Kencana Bali, Kelara, Babawee, PTb33 (tahan wereng coklat biotipe 2), IR70, IR68, Bahbutong, Barumun, dan Membramo (tahan wereng coklat biotipe 3).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemuliaan Padi Sawah Tipe IR64 (1986-&#8230;.)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">IR64 dilepas sebagai varietas unggul di Indonesia pada tahun 1986. Varietas ini digemari baik oleh petani dan konsumen karena rasa nasi yang enak, umur genjah, dan hasil yang tinggi. Latar belakang genetic tetua varietas IR64 lebih luas dibandingkan PB5, tetapi masih menggunakan varietas-varietas sebelumnya sebagai tetua sumber gen ketahanan terhadap hama dan penyakit serta keistimewaan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemanfaatan gen dari spesies  <em>Oriza nivara</em> telah dilakukan pada varietas PB28,PB30, PB32, dan PB36. Metode pemuliaan yang digunakan menggunakan metode bulk pada generasi awal, setelah mengalami fiksasi dan seleksi individu selama beberapa generasi kemudian dilanjutkan dengan metode pedigree.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemuliaan Padi Hibrida</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Padi hibrida merupakan salah satu untuk mengatasi terjadinya stagnasi peningkatan potensi hasil varietas-varietas sebelumnya. Pengembangan padi hibrida diawali dengan penemuan <em>cytoplasmic male sterile</em> (CMS) pada tahun 1960 dan paket teknologi produksi benih padi hibrida. Padi hibrida sendiri pertama kali diperoleh pada tahun 1973 yang diteliti oleh Negara Cina. Teknologi ini memerlukan pemanfaatan tiga galur, yaitu CMS, galur pemulih kesuburan (<em>restorer</em>), dan galur pelestari (<em>maintainer</em>), sehingga biasa disebut dengan teknik tiga galur. Selanjutnya berkembang menjadi teknik hibrida 2 galur yang memanfaatkan galur <em>environment genic male sterility</em> (EGMS). Galur ini menjadi steril pada kondisi tertentu sehingga dapat digunakan sebagai mandul jantan, tapi dapat menjadi fertile pada kondisi yang lain sehingga digunakan untuk memperbanyak galur EGMS.</p>
<p style="text-align:justify;">Padi hibrida memiliki latar belakang genetic galur-galur dari IRRI. Perakitan danpengujian padi hibrida di Indonesia telah menghasilkn tiga kombinasi hibrida harapan dan telah diuji multilokasi. Pada tahun 2002 telah dilepas varietas hibrida yaitu Maro dan Rokan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemuliaan Padi Tipe Baru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Populasi dasar padi tipe baru banyak dibentuk dengan memanfaatkan tetua dari subspesies indica dan japonica tropic sehingga latar belakang genetiknya cukup luas.  IRRI banyak memanfaatkan varietas local Indonesia sebagai tetua dalam pembentukan padi tipe baru. Pada awalnya pembentukan populasi tanaman padi tipe baru di Indonesia menggunakan varietas IRBB5, Weshang II, Membramo, Maros, TB154, BP68, dan IR65600 sebagai tetua persilangan. Penelitian tersebut menghasilkan galur-galur yang sedang diuji daya hasilnya seperti BP138E-KN-36-2-2, BP364B-MR-33-2-PN-5-1, dan IR66160-121-4-5-3-MR-3-PN-1-2-1-1, yang diharapkan beberapa tahun kedepan, salah satu dari galur tersebut dapat dilepas sebagai varietas padi tipe baru.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=13&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/perkembangan-pemuliaan-padi-sawah-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agronomi Tidak Sekedar Tanaman Pangan !!!</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/agronomi-tidak-sekedar-tanaman-pangan/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/agronomi-tidak-sekedar-tanaman-pangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 02:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar agronomi]]></category>
		<category><![CDATA[agronomi]]></category>
		<category><![CDATA[definisi agronomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Agronomi kok penelitiannya tanaman sayur, hias, obat dll. Agronomi itu tanaman pangan mas/mbak. Bagi teman-teman himpro pasti udah pernah bahkan sering denger dua kalimat tadi. Kalimat yang seharusnya tidak keluar dari seorang agronomi. Jadi sebenernya apa sih agronomi itu? Bersama-sama mari kita tengok apa itu agronomi, Agronomi berasal dari kata AGROS yang artinya lahan, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=9&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Agronomi kok penelitiannya tanaman sayur, hias, obat dll. Agronomi itu tanaman pangan mas/mbak. Bagi teman-teman himpro pasti udah pernah bahkan sering denger dua kalimat tadi. Kalimat yang seharusnya tidak keluar dari seorang agronomi. Jadi sebenernya apa sih agronomi itu? Bersama-sama mari kita tengok apa itu agronomi,</p>
<p><span id="more-9"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Agronomi berasal dari kata <strong><em>AGROS</em></strong> yang artinya lahan, dan <strong><em>NOMOS</em></strong> yang artinya pengelolaan. Jadi agronomi adalah ilmu yang mempelajari pengelolaan tanaman di sebidang lahan untuk mendapatkan hasil guna memenuhi kebutuhan /keperluan umat manusia. Pada awalnya memang kebutuhan manusia adalah memenuhi kebutuhan akan pangan, namun seiring dengan perkembangan jaman maka kebutuhan manusia pun meningkat tidak sebatas kebutuhan pangan semata.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Agronomi</strong> merupakan salah satu cabang ilmu terapan dalam biologi yang mempelajari pengaruh berbagai aspek biotik dan abiotik terhadap suatu individu atau sekumpulan individu tanaman untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Cakupan aspek biotik meliputi individu itu sendiri, individu lain yang sejenis, atau individu lain yang berbeda jenis. Cakupan aspek abiotik meliputi semua komponen tidak hidup yang mempengaruhi kehidupan individu yang dipelajari. Orang sering menyamakan agronomi dengan ilmu pertanian (dalam arti sempit: hanya untuk tanaman).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pengertian lain yang lebih sederhana, <strong>agronomi</strong> merupakan kegiatan mengelola atau budidaya suatu tanaman tertentu yang pada nantinya dapat bermanfaat dan dapat digunakan untuk kemaslahatan manusia. Jadi agronomi itu dapat diartikan sangat luas, tanaman yang dikaji pun sangatlah beragam, TIDAK HARUS TANAMAN PANGAN!!!.</p>
<p style="text-align:justify;">Buat temen2 agronomi yang tertarik dengan suatu komoditi tertentu, dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang komoditi tersebut jangan kuatir, silahkan untuk ber eksperimen, dan belajar lebih dalam, sehingga nantinya dapat bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Pembatasan agronomi hanya sebatas tanaman pangan sangatlah tidak bijaksana, mengingat arti dari agronomi sendiri begitu luas. Mulut digunakan untuk makan, minum, bicara, bernyanyi, bersyair, bersiul, bahkan untuk batuk dan mendengkur. Jadi apa bisa mulut hanya dibatasi hanya untuk makan dan bicara saja mengingat fungsinya sangat beragam? tentu tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena tujuan dari awalnya merupakan sarana untuk belajar bersama maka jika ada masukan silahkan berbagi disini, yg penting bertanggung jawab. Semoga bermanfaat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=9&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/28/agronomi-tidak-sekedar-tanaman-pangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mukadimah</title>
		<link>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/27/salam/</link>
		<comments>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/27/salam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 16:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>himproagro</dc:creator>
				<category><![CDATA[salam]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://himproagro.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[salam bagi semuanya, semoga sarana ini bisa untuk berbagi dan belajar bersama, serta dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya. semoga dapat memberi inspirasi, informasi, dan motivasi bagi semuanya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=3&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">salam bagi semuanya, semoga sarana ini bisa untuk berbagi dan belajar bersama, serta dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya. semoga dapat memberi inspirasi, informasi, dan motivasi bagi semuanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/himproagro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/himproagro.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=himproagro.wordpress.com&amp;blog=6338354&amp;post=3&amp;subd=himproagro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://himproagro.wordpress.com/2009/01/27/salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16ad309582461f2b05f005b2b1526915?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">himproagro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
