05.19.09
Nokia Siapkan Info Pertanian dan Pendidikan
Produsen telepon seluler terkemuka asal Finlandia, Nokia, akan meluncurkan dua layanan baru pada 2009 yakni “Nokia Live Tools”. Dengan layanan baru Nokia itu pengguna dapat mengakses informasi seputar pertanian dan pendidikan.
Paula Laine, Vice President Category Management, Entry category Nokia mengatakan Nokia memberikan layanan aksesibilitas internet melalui layanan Nokia Life Tools yaitu serangkaian pelayanan pendidikan bagi negara berkembang untuk daerah pedesaan
“Melalui Nokia Life Tools, petani di seluruh dunia mendapatkan informasi yang relevan dan akurat seperti prakiraan cuaca atau harga-harga pasar komoditas pertanian melalui layanan pesan pendek (SMS),” kata Paula.
Untuk awal Nokia Life Tools akan diujicoba di India dan kemudian diperluas ke beberapa negara di Asia dan Afrika pada 2009.
“Perangkat bergerak dan internet merupakan kombinasi yang kuat untuk menghubungkan setiap orang dengan yang lainnya, memperoleh informasi, berita, hiburan, Nokia percaya hal itu akan mendorong pertumbuhan internet di pasar berkembang melalui mobilitas”.
Alat Bantu untuk Menentukan Takaran dan Waktu Pemberian Pupuk pada Padi Sawah
Varietas padi yang ditanam petani biasanya beragam. Di samping itu, kesuburan tanah di setiap lokasi juga beragam. Oleh karena kebutuhan hara tanaman padi dipengaruhi oleh varietas, ketersediaan hara dan jenis tanah, pola tanam, iklim, dan ketinggian tempat, maka jenis dan takaran pupuk harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Takaran pupuk ini ditentukan oleh status hara atau suplai hara tanah, kebutuhan hara tanaman, dan kandungan hara dalam pupuk. Pemberian pupuk tepat takaran dan tepat waktu merupakan salah satu upaya untuk mencapai hasil optimal agar keuntungan petani dapat meningkat.
Umumnya petani sulit menentukan takaran pupuk yang tepat berdasar luas lahan usahataninya. Rekomendasi yang ditetapkan biasanya bersifat umum saja untuk seluruh wilayah. Sehingga terkadang pupuk yang diaplikasikan kurang atau dapat juga berlebihan. Padahal, penggunaan pupuk kurang dari takaran tidak dapat mencapai hasil optimal. Sebaliknya, penggunaan pupuk berlebihan di samping menambah biaya, juga dapat menurunkan hasil karena tanaman menjadi mudah terserang hama dan terinfeksi penyakit. Karenanya, diperlukan alat bantu yang memudahkan petani menentukan takaran pupuk.
PuPS 1.0 merupakan piranti lunak yang digunakan untuk menentukan rekomendasi takaran dan waktu aplikasi pupuk N, P, K untuk setiap persil lahan sawah petani. Dalam menentukan takaran pupuk tersebut sudah dipertimbangkan masukan hara dalam bentuk bahan organik, anorganik, atau sumber lain.
Program ini dirancang oleh tim peneliti IRRI bersama Tim Teknis Kelompok Kerja Pemupukan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, agar PPL atau siapa saja mudah mengoperasikan piranti lunak tersebut. PuPS 1.0 ini diaplikasikan pemakai dengan menggunakan komputer sehingga tidak perlu dilakukan perhitungan secara manual. Jika fasilitas komputer terbatas, tersedia file “lembar pertanyaan” berisi 11-13 pertanyaan untuk menghimpun data dari petani. Lembar pertanyaan yang telah terisi data kemudian diolah menggunakan fasilitas komputer yang tersedia. Piranti lunak PuPS 1.0 sudah dilengkapi program Microsoft Access 2003 yang dapat menyimpan serta mencetak data dan mencetak rekomendasi takaran dan waktu aplikasi pupuk.Dengan pemberian pupuk tepat takaran, tepat waktu, dan tepat jenis, maka pemupukan akan lebih efisien, hasil tinggi, dan pendapatan petani meningkat. Selanjutnya, pencemaran lingkungan dapat dihindari, kesuburan tanah tetap terjaga, dan produksi padi lestari.
Di bawah ini adalah contoh keluaran rekomendasi takaran pupuk berdasarkan luas lahan, varietas yang akan ditanam, serta hasil yang biasa dicapai petani. Tampak bahwa rekomendasi tersebut dapat dicetak (print) jika tersedia printer sebagai bahan catatan.
Untuk menunjang pelatihan tersedia publikasi tercetak yang berjudul (1) Modul Pemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi dan (2) Panduan Praktis Pengelolaan Hara.
Pengguna dapat mengakses piranti lunak ini disini
Mimba Pestisida Nabati Ramah Lingkungan
Cara Kerja Mimba
Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung azadirachtin sebagai senyawa aktif utama, meliantriol, salanin, dan nimbin. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu juga berperan sebagai pemandul.
Keunggulan Mimba
Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain: (a) di alam senyawa aktif mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen, (b) cara kerja spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak), (c) tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu.
Berdasarkan hasil penelitian telah diperoleh bahwa ekstrak air biji mimba 50 g/l yang diaplikasikan pada umur 8 hari efektif menekan serangan hama lalat kacang, Ophiomyia phaseoli pada tanaman kedelai. Cara ini sama dengan jika menggunakan Karbofuran (Curater 3 G-6 kg/ha), Fipronil (Regent 50 EC-2 ml/l), dan Klorfirifos (Petroban200 EC-2 ml/l) (Gambar 1) dengan memberikan nilai tambah sebesar Rp.80.400 per hektar, bila dibanding dengan tanpa pengendalian. Biji mimba yang diekstrak dengan pelarut air (50 g/l) ditambah 0,5 ml perata/ha juga efektif menekan serangan tungau merah pada ubikayu dengan mortalitas 70%. Pada tanaman kacang hijau ekstrak air biji mimba 50 g/l dapat menekan kehilangan hasil 13-45% terhadap hama penggerek polong Maruca testulalis, dan sebesar 21,5% terhadap hama Thrips bila dibanding tanpa pengendalian.Hasil pengamatan di KP. Kendalpayak pada MT 2007 menunjukkan bahwa populasi ulat grayak, Spodoptera litura dan kutu kebul, Bemisia tabaci pada kedelai varietas Burangrang, Kaba, Ijen, dan Anjasmoro yang disemprot insektisida kimia cukup tinggi, rata-rata 6 ekor ulat/6 ayunan dan 1300-1500 ekor kutu kebul/6 ayunan dibanding 1 ekor ulat/6 ayunan dan 100-700 ekor kutu kebul/6 ayunan pada varietas yang sama yang disemprot dengan serbuk biji mimba 50 g/l air. Pada perlakuan mimba populasi predator laba-laba juga masih dijumpai.
Pembuatan Ekstrak Air Biji Mimba
1. Kering anginkan biji mimba beserta kulit biji sampai kering agar tidak berjamur.
2. Giling biji dan kulit biji mimba sampai halus, kemudian saring dengan ayakan 0,05 mesh.
3. Timbang 25-50 g serbuk biji mimba + 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam semalam
(12 jam).
4. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing
5. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa), aduk
rata dan larutan siap disemprotkan.
6. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, dengan volume semprot yang memadai
400-600 liter air, tergantung umur tanaman yang akan disemprot
Pembuatan Ekstrak Air Daun Mimba
1. Blender 50 g daun mimba segar dengan 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam
semalam (12 jam).
2. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing
3. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa), aduk
rata dan larutan siap disemprotkan.
03.31.09
Electrical Conductivity (EC)
Electrical Conductivity (EC)
Function:
Soluble salts refer to the total dissolved salts in the root substrate (medium) at any given time and is measured in terms of electrical conductivity (EC). All fertilizer materials contribute to the EC content of the root substrate, most commonly these are nitrates (NO3), ammonium (NH4), phosphates (PO4), potassium (K), calcium (Ca), magnesium (Mg), boron (B), iron (Fe), zinc (Zn), copper (Cu), sulfates (SO4), sodium (Na), bicarbonate (HCO3) and chlorides (Cl). Organic materials also contribute to the EC content after they have been changed from an insoluble to soluble form. Nitrogen and potassium are the fertilizer materials that most often contribute to the EC concentration of the root substrate. In some areas, high sodium in the irrigation water can also be a problem.
Deficiency:
At the opposite end of the spectrum, when the EC content of the root substrate is too low, plant growth is stunted from lack of fertilizer
Excess:
Excess salts accumulate when leaching during irrigation is insufficient, too much fertilizer is applied, or the irrigation water contains a high amount of dissolved elements. Excessively high EC readings are associated with poor plant growth. Plant symptoms often begin on the lower leaves as leaf chlorosis and progress to necrotic leaf tip margins. If the root substrate is allowed to dry down, plants may also exhibit wilting symptoms because of dieback of the root tips, which further inhibit water and fertilizer uptake. High EC has also been linked with the increased incidence of Pythium root rot.
Confirm your actual EC levels by conducting a routine root substrate (medium) test.
Monitoring and Management Strategy for Electrical Conductivity (EC) Fertilization Rate:
1.5 to 2.5 mS/cm. Optimal range is 25% to 50% lower with flood irrigation or reduced leaching fertilization programs.
Options:
Preplant:
Incorporation of fertilizer in the root substrate (medium) for a starter charge.
Continual Fertilization:
- Use a fertilizer that provides N. Examples include calcium nitrate (Ca(NO3)2) with potassium nitrate (KNO3), 20-10-20, 15-5-25, Excel® 15-5-15 Cal-Mag and others.
- If using calcium nitrate (Ca(NO3)2) and potassium nitrate (KNO3), remember to supply P, Mg, and micro-nutrients to the plants.
- If using 20-10-20 or 20-20-20, remember to supply Ca and Mg to the plants.
Corrective Fertilization:
Too High EC:
- Decrease the fertilization rate or the frequency of fertilization.
- Leaching will reduce the salts level. The root substrate should be irrigated normally, then followed immediately with another irrigation. After this, the root substrate should be allowed to dry to the usual stage, and if further leaching is required, a double-irrigation treatment can be repeated. Check the EC level again to make sure it is within the acceptable range.
Too Low EC:
Increase the fertilization rate or the frequency of fertilization. See target levels listed under nitrogen.
Electro – Conductivity (EC) or Conductivity Factor (cF) can be expressed as either millisiemens (mS), cF or parts per million (ppm).
Example: 1mS = 10cF = 700ppm.
The pH and Electro – Conductivity values specified here are given as a broad range. It should be noted that different seasons and climate will alter the needs of your plant. As a general rule, in cooler grow rooms, the plant requires higher nutrients. With warmer rooms, the plant requires lower levels of nutrients.
Vegetable Crops
L = Low M = Medium H = High
|
Product |
pH |
Category |
cF |
ppm |
| Artichoke |
6.5 – 7.5 |
L |
8 – 18 |
560 – 1260 |
| Asparagus |
6.0 – 6.8 |
L |
14 – 18 |
980 – 1260 |
| Bean (Common) |
6.0 |
H |
20 – 40 |
1400 – 2800 |
| Beetroot |
6.0 – 6.5 |
H |
18 – 50 |
1260 – 3500 |
| Broad Bean |
6.0 – 6.5 |
M |
18 – 22 |
1260 – 1540 |
| Broccoli |
6.0 – 6.8 |
H |
28 – 35 |
1960 – 2450 |
| Brussels Sprout |
6.5 |
H |
25 – 30 |
1750 – 2100 |
| Cabbage |
6.5 – 7.0 |
H |
25 – 30 |
1750 – 2100 |
| Capsicum |
6.0 – 6.5 |
M |
18 – 22 |
1260 – 1540 |
| Carrot |
6.3 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Cauliflower |
6.5 – 7.0 |
M |
15 – 20 |
1050 – 1400 |
| Celery |
6.5 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
| Cucumber |
5.5 |
M |
17 – 25 |
1190 – 1750 |
| Eggplant |
6.0 |
H |
25 – 35 |
1750 – 2450 |
| Endive |
5.5 |
M |
20 – 24 |
1400 – 1680 |
| Fodder |
6.0 |
M |
18 – 20 |
1260 – 1400 |
| Garlic |
6.0 |
L |
14 – 18 |
980 – 1260 |
| Leek |
6.5 – 7.0 |
L |
14 – 18 |
980 – 1260 |
| Lettuce |
6.0 – 7.0 |
L |
8 – 12 |
560 – 840 |
| Marrow |
6.0 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
| Okra |
6.5 |
H |
20 – 24 |
1400 – 1680 |
| Onion |
6.0 – 6.7 |
L |
14 – 18 |
980 – 1260 |
| Pak – choi |
7.0 |
M |
15 – 20 |
1050 – 1400 |
| Parsnip |
6.0 |
L |
14 – 18 |
980 – 1260 |
| Pea |
6.0 – 7.0 |
L |
8 – 18 |
980 – 1260 |
| Pepino |
6.0 – 6.5 |
H |
20 – 50 |
1400 – 3500 |
| Potato |
5.0 – 6.0 |
H |
20 – 25 |
1400 – 1750 |
| Pumpkin |
5.5 – 7.5 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
| Radish |
6.0 – 7.0 |
M |
16 – 22 |
840 – 1540 |
| Spinach |
6.0 – 7.0 |
M |
18 – 23 |
1260 – 1610 |
| Silverbeet |
6.0 – 7.0 |
M |
18 – 23 |
1260 – 1610 |
| Sweet Corn |
6.0 |
M |
16 – 24 |
840 – 1680 |
| Sweet Potato |
5.5 – 6.0 |
H |
20 – 25 |
1400 – 1750 |
| Taro |
5.0 – 5.5 |
H |
25 – 30 |
1750 – 2100 |
| Tomato |
6.0 – 6.5 |
H |
20 – 50 |
1400 – 3500 |
| Turnip |
6.0 – 6.5 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
| Zucchini |
6.0 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
Herbs
|
Product |
pH |
Category |
cF |
ppm |
| Basil |
5.5 – 6.5 |
L |
10 – 16 |
700 – 1120 |
| Chicory |
5.5 – 6.0 |
H |
20 – 24 |
1400 – 1680 |
| Chives |
6.0 – 6.5 |
M |
18 – 22 |
1260 – 1540 |
| Fennel |
6.4 – 6.8 |
L |
10 – 14 |
700 – 980 |
| Lavender |
6.4 – 6.8 |
L |
10 – 14 |
700 – 980 |
| Lemon Balm |
5.5 – 6.5 |
L |
10 – 16 |
700 – 1120 |
| Marjoram |
6.0 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Mint |
5.5 – 6.0 |
H |
20 – 24 |
1400 – 1680 |
| Mustard Cress |
6.0 – 6.5 |
M |
12 – 24 |
840 – 1680 |
| Parsley |
5.5 – 6.0 |
L |
8 – 18 |
560 – 1260 |
| Rosemary |
5.5 – 6.0 |
L |
10 – 16 |
700 – 1120 |
| Sage |
5.5 – 6.5 |
L |
10 – 16 |
700 – 1120 |
| Thyme |
5.5 – 7.0 |
L |
8 – 16 |
560 – 1120 |
| Watercress |
6.5 – 6.8 |
L |
4 – 18 |
280 – 1260 |
Flower Crops
|
Product |
pH |
Category |
cF |
ppm |
| African Violet |
6.0 – 7.0 |
L |
12 – 15 |
840 – 1050 |
| Anthurium |
5.0 – 6.0 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Antirrhinim |
6.5 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Aphelandra |
5.0 – 6.0 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
| Aster |
6.0 – 6.5 |
M |
18 – 24 |
1260 -1680 |
| Begonia |
6.5 |
L |
14 – 18 |
980 – 1260 |
| Bromeliad |
5.0 – 7.5 |
L |
8 – 12 |
560 – 840 |
| Caladium |
6.0 – 7.5 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Canna |
6.0 |
M |
18 – 24 |
1260 – 1680 |
| Carnation |
6.0 |
H |
20 – 35 |
1260 – 2450 |
| Chrysanthemum |
6.0 – 6.2 |
H |
18 – 25 |
1400 – 1750 |
| Cymbidium |
5.5 |
L |
6 – 10 |
420 – 560 |
| Dahlia |
6.0 – 7.0 |
M |
15 – 20 |
1050 – 1400 |
| Dieffenbachia |
5.0 – 6.0 |
H |
18 – 24 |
1400 – 1680 |
| Dracaena |
5.0 – 6.0 |
H |
18 – 24 |
1400 – 1680 |
| Fern |
6.0 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Ficus |
5.5 – 6.0 |
M |
16 – 24 |
1120 – 1680 |
| Freesia |
6.5 |
M |
10 – 20 |
700 – 1400 |
| Impatien |
5.5 – 6.5 |
M |
18 – 20 |
1260 – 1400 |
| Gerbera |
5.0 – 6.5 |
H |
20 – 25 |
1400 – 1750 |
| Gladiolus |
5.5 – 6.5 |
H |
20 – 24 |
1400 – 1680 |
| Monstera |
5.0 – 6.0 |
H |
18 – 24 |
1400 – 1680 |
| Palm |
6.0 – 7.5 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
| Rose |
5.5 – 6.0 |
M |
15 – 25 |
1050 – 1750 |
| Stock |
6.0 – 7.0 |
M |
16 – 20 |
1120 – 1400 |
01.28.09
Perilaku herbisida pada tanah
Perkembangan herbisida dalam dunia pertanian saat ini telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dalam era peningkatan mekanisasi dan program budidaya intensif ini, peran penggunaan herbisida dalam upaya meningkatkan hasil dan mengurangi biaya produksi semakin besar. Seperti kita ketahui bersama bahwa peran herbisida kini sangat penting dalam mengurangi jumlah gulma yang mengganggu tanaman utama. Dengan melakukan aplikasi herbisida secara teratur pada gulma di lahan kita , maka otomatis kita mengurangi biaya pembersihan gulma.
Namun demikian, penggunaan herbisida tersebut perlu mendapat perhatian yang serius mengingat pengendalian gulma secara kimiawi akan berhasil apabila herbisida tersebut selektif terhadap tanaman utama sekaligus ramah terhadap lingkungan. Dengan kata lain, aplikasi herbisida yang dilakukan haruslah bijaksana sehingga tidak hanya aman bagi tanaman namun juga sisa herbisida tersebut tidakmencemari lingkungan sekitar.
Berhati-hati menggunakan herbisida dalam pengendalian gulma merupakan hal yang penting baik itu untuk herbisisda pra-tumbuh maupun purna-tumbuh mengingat persistensi herbisida dalam tanah setiap jenisnya berbeda-beda. Apalagi kini sudah banyak macam ragam dan jenis herbisida yang beredar di pasaran dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing. Persistensi merupakan kemampuan herbisida tetap berada pada tanah dalam keadaan tetap aktif. Informasi tentang persistensi pestisida sangat perlu agar penggunaannya dapat memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Persistensi ini merupakan ekspresi positif dan negatif dari herbisida itu sendiri. Semakin lama persistensi herbisida dalam tanah, maka akan semakin menguntungkan bila ditinjau dari segi efikasinya. Namun apabila ditinjau dari segi ekologi yang dikaitkan dengan kualitas lingkungan, maka persistensi herbisisda yang terlalu lama tentunya merupakan hal yang tidak diinginkan dan harus dihindari karena akan mencemari lingkungan sekitar.
Transgenik sebagai solusi yang ditakuti
Negara-negara berkembang diperhadapkan dengan masalah pertambahan penduduk, dan diperkirakan lebih dari 900 juta dari 5.8 miliar penduduk dunia mengalami kelaparan. Pada tahun 2025 penduduk dunia diperkirakan 8 miliar dengan sebagian kelahiran baru terjadi di negara-negara berkembang. Asia akan menjadi tempat tinggal kira-kira 4 miliar orang dan tiap orang memerlukan cukup pangan, sedangkan produksi belum dapat mengatasi kebutuhan manusia. Hal ini diperparah dengan berkurangnya lahan pertanian karena kebutuhan manusia akan tempat tinggal dan perkembangan pembangunan.
Rekayasa genetika memiliki potensi sebagai teknologi yang ramah lingkungan . Selain ramah lingkungan teknologi rekayasa genetika diharapkan akan dapat membantu mengatasi masalah pembangunan pertanian yang tidak lagi dapat dipecahkan secara konvensional. Contohnya dalam rangka meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah salah satu kendala utamanya adalah adanya gangguan hama dan penyakit. Survei sekilas dari literatur majalah ilmiah mengenai tanaman transgenik menunjukkan bahwa tanaman transgenik dibuat untuk beberapa tujuan yaitu : pengembangan teknik transformasi baru, studi dasar mengenai peranan atau fungsi suatu gen, dan perbaikan tanaman untuk tujuan khusus. Dengan rekayasa genetika sudah dihasilkan tanaman transgenik yang memiliki sifat baru seperti tanaman transgenik yang tahan terhadap hama, tanaman kedelai yang tahan terhadap herbisida dan tanaman transgenik yang mempunyai kualitas hasil yang tinggi.
Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah di Indonesia
Menurut jurnal Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah Di Indonesia yang disusun oleh U. Susanto, A.A. Daradjat, dan B. Suprihatno, dapat diketahui bahwa varietas unggul padi sawah merupakan kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di Indonesia. Perakitan varietas padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta minat masyarakat. Menurut Daradjat, varietas padi sawah digolongkan dalam empat tipe yang tahan hama dan penyakit utama serta memiliki mutu yang baik, yaitu tipe Bengawan, tipe PB5, tipe IRxx, dan tipe IR64.
Agronomi Tidak Sekedar Tanaman Pangan !!!
Agronomi kok penelitiannya tanaman sayur, hias, obat dll. Agronomi itu tanaman pangan mas/mbak. Bagi teman-teman himpro pasti udah pernah bahkan sering denger dua kalimat tadi. Kalimat yang seharusnya tidak keluar dari seorang agronomi. Jadi sebenernya apa sih agronomi itu? Bersama-sama mari kita tengok apa itu agronomi,
01.27.09
mukadimah
salam bagi semuanya, semoga sarana ini bisa untuk berbagi dan belajar bersama, serta dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya. semoga dapat memberi inspirasi, informasi, dan motivasi bagi semuanya.